Rupiah Akhir Tahun Bisa Capai Rp 8.200 / Dolar

oleh

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank pada akhir tahun ini diperkirakan dapat mencapai level Rp8.200 per dolar AS, karena investor asing masih akan menginvestasikan dananya di pasar domestik Peluang untuk mencapai level Rp8.200 per dolar cukup besar, karena berbagai pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat yang masih tak dan kawasan Eropa yang masih dililit utang akan menahan pelaku asing menempatkan dana di kedua pasar tersebut. <p style="text-align: justify;">Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank pada akhir tahun ini diperkirakan dapat mencapai level Rp8.200 per dolar AS, karena investor asing masih akan menginvestasikan dananya di pasar domestik Peluang untuk mencapai level Rp8.200 per dolar cukup besar, karena berbagai pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat yang masih tak dan kawasan Eropa yang masih dililit utang akan menahan pelaku asing menempatkan dana di kedua pasar tersebut.<br /><br />Selain itu Indonesia juga diuntungkan dengan pengetatan likuiditas di China dalam upaya menahan pertumbuhan ekonomi yang cukup besar.<br /><br />China khawatir ekonomi yang tumbuh tinggi akan menimbulkan laju inflasi 2011 makin besar.<br /><br />Selain itu juga di Jepang, ekonominya masih belum tumbuh selama dua kuartal hal ini mendorong pelaku pasar lebih cenderung menginvestasikan di pasar domestik.<br /><br />Investor asing juga masih khawatir dengan pertumbuhan ekonomi global seperti di Amerika Serikat yang ekonominya masih tak menentu dan di kawasan Eropa yang dililit krisis utang.<br /><br />Pelaku asing diperkirakan akan masih bermain di pasar Asia khususnya Indonesia karena pasarnya masih menarik dan didukung pula oleh pertumbuhan ekonomi yang meningkat.<br /><br />Tetap Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, nilai tukar rupiah akan tetap menguat hingga akhir 2011 , meski penguatannya tidak akan sebesar pada bulan-bulan awal.<br /><br />"Pelemahannya belakangan ini disebabkan banyak hal. Bisa karena gonjang-ganjing ekonomi Eropa atau regional. Jadi jangan terlalu terpengaruh kejadian satu hingga dua hari. Tendensi rupiah masih menguat walau tidak sekuat bulan-bulan lalu," kata Darmin.<br /><br />Darmin juga mengatakan penguatan rupiah mendorong peningkatan cadangan devisa, yang sampai 20 Mei tercatat sebesar 116,5 miliar dolar AS.<br /><br />Mengenai kekhawatiran pelarian modal yang bisa melemahkan rupiah, Darmin mengatakan hal itu bisa saja terjadi di negara mana pun, tergantung pada kondisi perekonomian dunia sehingga perlu penguatan internal ekonomi negara itu.<br /><br />"Tidak usah terlalu risau dengan pembalikan modal. Kami sudah menyiapkan diri untuk mencegah dampak pelarian modal," katanya.<br /><br />Nilai tukar rupiah pada pekan ini berada pada kisaran Rp8.561 – Rp8.584 per dolar AS atau tetap dalam alur menguat sejak dua tahun lalu.<br /><br />BI sebelumnya menyampaikan bahwa sejalan dengan masih kuatnya aliran masuk modal asing, nilai tukar rupiah cenderung menguat pada April 2011.<br /><br />Selama April 2011, nilai tukar rupiah menguat sebesar 1,68 persen (ptp) menjadi Rp8.564 per dolar AS dengan volatilitas( gejolak) yang tetap terjaga.<br /><br />Kecenderungan penguatan nilai tukar rupiah tersebut tidak terlepas dari persepsi positif investor terhadap solidnya fundamental perekonomian Indonesia.<br /><br />Bank Indonesia (BI) memandang bahwa pergerakan nilai tukar rupiah tersebut masih sejalan dengan upaya BI meredam tekanan inflasi dan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.<br /><br />Sejauh ini apresiasi nilai tukar rupiah dipandang tidak berdampak negatif terhadap daya saing produk domestik sehingga kinerja ekspor diperkirakan akan tetap kuat.<br /><br />Rupiah diperkirakan akan terus menguat hingga akhir 2011 dikisaran Rp8.200-Rp8.700 per dolar Amerika Serikat (AS).<br /><br />"Pergerakan rupiah tahun ini sudah naik empat persen, sehingga harga elektronik seperti "handphone" menjadi murah. Sekarang rupiah di level Rp8.500 hingga Rp8.600 dan diprediksi rupiah akan menguat seiring dolar terus melemah," kata Branch Manager CIMB Securities Semarang, Yulius Kurniawan, yang juga analis keuangan.<br /><br />Yulius memperkirakan hingga akhir tahun 2011, rupiah akan menguat pada level Rp8.200. Dampaknya, barang-barang impor makin murah, tetapi eksportir akan dirugikan karena daya saing barang dari Indonesia di luar negeri menjadi lebih rendah.<br /><br />"Sektor farmasi akan membaik karena selama ini bahan baku berasal dari luar negeri," katanya.<br /><br />Terkait peluang investasi, Yulius berpendapat investor layak berinvestasi di sektor perumahan, perbankan, dan pertambangan, tetapi tidak untuk sektor telekomunikasi.<br /><br />"Harga rumah terus naik begitu juga dengan perbankan yang saat ini pendapatannya terus tinggi, sehingga tidak heran setiap akhir pekan di televisi banyak acara yang diadakan oleh bank ternama," katanya.<br /><br />Sementara untuk sektor telekomunikasi, persaingan provider sangat tinggi sehingga margin pendapatan yang diperoleh semakin tipis.<br /><br />"Dahulu ada dua provider yang kuat, tetapi kemudian terus tumbuh provider lainnya," katanya.<br /><br />Tekan rupiah Sementara itu pengamat ekonomi, Irfan Kurniawan memperkirakan, apabila paket stimulus Amerika Serikat (AS) pada tahap ketiga dihentikan akan menekan rupiah.<br /><br />Karena jika paket stimulus itu terhenti maka likuiditas di pasar global akan makin ketat. Sedangkan paket stimulus tahap kedua akan berakhir pada akhir Juni mendatang.<br /><br />"Apabila hal itu terjadi maka Bank Sentral AS (The Fed) kemungkinan akan menjual obligasi yang dimilikinya untuk menarik dana asing di pasar yang berdampak negatif terhadap rupiah," kata Irfan yang juga analis PT First Asia Capital.<br /><br />Irfan mengatakan dihentikannya paket stimulus tahap III menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mulai membaik, namun kenyataannya banyak data ekonomi AS yang negatif.<br /><br />Sejumlah data ekonomi AS sampai saat ini cenderung berada di luar perkiraan sebelumnya atau mengalami kemerosotan, tegasnya.<br /><br />Penjualan perumahan pada April hanya mencapai tujuh persen turun dibanding bulan lalu sekitar delapan persen, selain itu banyak perusahaan AS yang juga mengalami kerugian.<br /><br />Kondisi itu, lanjut dia mengakibatkan para pelaku pasar global atau fund manager menghindari pembelian aset-aset berisiko tinggi dan pasar saham.<br /><br />"Akibatnya kondisi ini akan berdampak negatif terhadap bursa efek Indonesia yang mengalami tekanan global, karena para pelaku pasar akan melepas sahamnya dan membeli dolar," ucapnya.<br /><br />Menurut dia, pasar uang dan saham akan mengalami tekanan pasar, bahkan rupiah akan terpuruk hingga mendekati Rp9.000 per dolar, namun kapan waktu dan terjadinya masih belum pasti.<br /><br />Karena itu penjualan obligasi oleh The Fed itu baru merupakan wacana bisa saja tidak terjadi.<br /><br />Fundamental ekonomi Indonesia yang makin bagus, lanjut dia merupakan faktor pendukung yang mendorong rupiah tetap dibawah level Rp9.000 per dolar, apalagi investor asing masih ingin bermain di pasar domestik, karena tingkat suku bunga rupiah yang tinggi.<br /><br />"Amerika Serikat diperkirakan masih akan mematok suku bunga dolar dibawah nol persen yang membuat pelaku asing segan melakukan investasi di Amerika Serikat.<br /><br />Jangan lemahkan Sementara itu Ketua Kaukus Ekonomi Konstitusi, Arif Budimanta mengatakan modal asing yang masuk ke Indonesia jangan sampai melemahkan ekonomi nasional, bahkan bisa membangun perekonomian.<br /><br />"Pihak asing datang dan menanamkan modalnya karena Indonesia masih menarik, mereka datang melalui aturan-aturan yang kita buat sendiri. Kemudian bagaimana modal asing yang datang itu bukan justru melemahkan kepentingan ekonomi nasional tapi membangun ekonomi kita," kata Arif.<br /><br />Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu mengatakan, agar modal asing bisa memperkuat perekonomian nasional di antaranya dengan melakukan reorientasi ekonomi yang lebih mendahulukan kepentingan ekonomi nasional.<br /><br />Selain itu, secara sederhana harus ada perubahan paradigma dengan membuka ruang nilai tambah yang lebih besar dalam perspektif ekonomi nasional.<br /><br />"Seharusnya itu yang kita kembangkan. Asing datang bukan berarti manfaatnya dinikmati kambali oleh mereka, tapi bagaimana asing datang manfaatnya diterima oleh kita karena mau tidak mau kita tidak bisa mengucilkan diri dari efek globalisasi tapi bagaimana memberikan manfaat dan kita memanfaatkannya dengan baik," katanya.<br /><br />Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi ekonomi nasional saat ini mengalami pertumbuhan yang tinggi, kemiskinan menurun, lapangan kerja semakin terbuka. Tapi kemandirian ekonomi tidak tercapai karena Indonesia masih bergantung kepada negara lain.<br /><br />"Berbagai macam bahan kita impor. Kita terjebak pada subsidi padahal kita menghasilkan banyak sumber-sumber energi, atas dasar itu paradigma yang salah harus kita lakukan reorientasi ke depan," tambahnya.<br /><br />Pengamat pasar uang lainnya, Farial Anwar mengatakan, rupiah idealnya berada pada kisaran Rp8.500-Rp8.600 per dolar karena pada kisaran tersebut eksportir dan importir masih dapat melakukan usaha asalkan Bank Indonesia masih membantu.<br /><br />Meski rupiah saat ini melemah karena pelaku asing khawatir dengan pertumbuhan global yang tak menentu, hal itu tidak akan berlangsung lama, kata Farial Anwar, yang juga Direktur Currency Management Board.<br /><br />Ia mengatakan, rupiah akan kembali membaik, karena pelaku asing akan tetap bermain di pasar domestik akibat pasar yang masih menggiurkan.<br /><br />Investor asing juga belum mau masuk ke pasar Amerika Serikat yang masih menerapkan suku bunga rendah dan kawasan Eropa yang dilanda krisis utang.<br /><br />Karena itu, lanjut dia, peluang untuk kembali menguat tetap besar, namun BI harus menjaga pergerakan rupiah agar tidak berada dalam kisaran yang melebar.<br /><br />Menurut dia, di pasar Asia seperti China sedang berusaha menghentikan pemberian kredit dalam upaya menahan pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat.<br /><br />China berusaha melakukan pengetatan likuiditas agar laju inflasi tidak terus meningkat. Selain itu di Jepang yang juga mengalami penurunan pertumbuhan sejak dua kuartal lalu yang menimbulkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi Asia melambat.<br /><br />Namun masalah kedua negara raksasa ekonomi itu kemungkinan tidak akan berlangsung lama, ucapnya.<br /><br />Kondisi yang terjadi di kedua negara Asia itu, menurut dia sebenarnya sangat menguntungkan Indonesia, terutama investasi asing yang kemungkinan akan meningkat.<br /><br />Karena itu pemerintah harus dapat memanfaatkan momentum itu lebih cepat dengan menjaga kondisi pasar domestik yang aman dan nyaman, ucapnya.(Eka/Ant)</p>