Sintang Butuh Penampungan Unggas Sementara

oleh

Teridentifikasinya kasus flu burung di Sintang hingga menyebar dan bertahan sampai saat ini tidak terlepas dari lemahnya peran pengawasan terhadap masuknya unggas di Sintang. <p style="text-align: justify;">Dari itu, penting kiranya pemerintah daerah memikirkan bagaimana menyaring arus masuk unggas sebelum sampai ke dalam kota dan didistribusikan ke sejumlah daerah.<br /><br />“Memang ada rencana kita untuk membuat tempat khusus penampungan sementara unggas yang akan masuk ke Sintang,” kata Wiryono, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sintang baru-baru ini.<br /><br />Menurutnya, tempat penampungan sementara untuk unggas tersebut selain sebagai antisipasi masuknya penyakit seperti flu burung atau lainnya ke Sintang, juga bisa mencegah ayam mati agar tidak dijual ke konsumen.<br /><br />“Ya semacam karantina lah, yang jelas kami memandang ini perlu untuk upaya pencegahan,” kata dia.<br /><br />Minimnya pasokan bibit ayam ke Sintang yang diduga ada permainan membuat banyak pengusaha atau penjual ayam yang langsung mendatangkan ayam dewasa ke kota ini sehingga bisa langsung di jual ke masyarakat. Bahkan akibat minimnya pasokan bibit ayam sehingga kebutuhan ayam kurang terpenuhi, diduga ayam dari Malaysia juga masuk untuk memenuhi kebutuhan pasar di Sintang.<br /><br />“Mudah-mudahan tempat penampungan sementara itu bisa direalisasikan sehingga ayam-ayam yang sampai ke masyarakat adalah ayam yang sehat dan penyebaran virus mematikan seperti flu burung bisa ditekan,” jelasnya.<br /><br />Sejauh ini, peternak sintang setiap bulannya membutuhkan 1400 boks bibit ayam ras, tapi yang baru terpenuhi hanya 60 persen saja sehingga berdampak pada pemenuhan kebutuhan daging ayam.<br /><br />“Padahal peternak kita mampu memenuhi kebutuhan daging ayam di Sintang sepanjang bibit mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan usaha peternakan mereka,” kata dia.<strong> (*)</strong></p>