Home / Tak Berkategori

Ulat Bulu, Perubahan Iklim dan Pencegahan Penyebaran

- Jurnalis

Minggu, 24 April 2011 - 10:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua jenis ulat bulu yang ditemukan dalam jumlah banyak di Kecamatan Sintang menjadi pertanda perubahan kualitas lingkungan. Upaya pencegahan penyebaran harus dilakukan segera sebelum menyerang tamanan pertanian dan manusia. <p style="text-align: justify;">Penemuan pertama yang membuat heboh warga Sintang adalah ulat bulu yang ada di Jalan Lintas Melawi, Gang Hj Fatimah Desa Baning, penemuan kedua hanya berselang dua hari berada di Kelurahan Tanjung Puri tepatnya dibelakang kantor TVRI Sintang.<br /><br />Dari hasil identifikasi sampel ulat bulu yang dikirim ke Pontianak, Koordinator Pengendalian Hama Pertanian Provinsi, Sudarmo mengatakan jenis ulat bulu yang ditemukan di Gang Hj Fatimah adalah jenis Arctornis sp. <br /><br />“Ciri utama berwarna abu-abu dan memakan kulit kayu pohon, berasal filum Arthropoda, kelas Insecta, ordo Lepidoptera, Family Lymantriidae, genus Arctornis, spesies Arctornis sp,” katanya baru-baru ini.<br /><br />Di Kelurahan Tanjungpuri kata dia adalah jenis Lymantria yang berbeda genus dengan Arctornis.<br /><br />“Lymantria adalah serangga yang beraktivitas pada malam hari karena dari sub-ordo Lymantria ini yang masuk kategori Noctuidea yang berarti ia beraktivitas pada malam hari,” jelasnya.<br /><br />Kedua ulat bulu yang ditemukan di Sintang ini berasal dari family yang sama yakni Lymantridiaee sehingga ciri-ciri fisik keduanya mirip.<br /><br />“Menurut pendapat ahli, pada akhir metamorfosisnya akan berubah menjadi ngengat,” kata dia.<br /><br />Ia menduga munculnya ulat bulu ini dalam jumlah besar karena ada mata rantai makanan yang terputus dimana predator yang sering memangsa mulai berkurang.<br /><br />“Piramida makanan sudah jelas ketika konsumen tingkat satu berkurang dan konsumen tingkat tinggi bertambah, maka akan terjadi kenaikan jumlah yang signifikan pada konsumen tinggkat II dalam hal ini adalah ulat bulu,” tukasnya.<br /><br />Ia mengatakan upaya pencegahan penyebaran tetap harus dilakukan dan untuk pembasmiannya dilakukan sampai ke sarang.<br /><br />“Garam dan abu sudah kami masukkan ke dalam sarangm, begitu juga pembakaran belerang dan ini sebagai upaya kita untuk menekan perkembangan,” tukasnya.<br /><br />Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sintang, Robinson Marbun menilai terganggunya predator alami ulat bulu mengakibatkan terjadinya ledakan populasi ulat bulu itu.<br /><br />“Dugaan kita memang predator alaminya terganggu,” jelasnya.<br /><br />Ia mengatakan salah satu predator alami ulat bulu adalahs emut rangrang yangs udah mulai jarang ditemukan karena mulai sering diburu untuk diambil telurnya.<br /><br />“Infonya telur semut itu sangat bagus untuk dijadikan umpan memancing ikan,” jelasnya.<br />Saya berharap, masyarakat bisa memahami alur rantai makanan ini dan mengurangi bahkan tidak melakukan perburuan terhadap telur semut rangrang.<br /><br />“Untuk umpan kan bisa menggunakan bahan yang lain, tidak harus telur semut itu, meskipun sepele, tapi saya kira pemahaman ini penting untuk masyarakat dalam upaya pencegahan penyebaran ulat bulu di masa yang akan datang,” tukasnya.<br /><br />Ia juga meminta masyarakat yang menemukan ulat bulu dalam jumlah banyak bisa segera menginformasikan ke Dinas Pertanian untuk segera ditindaklanjuti.<br /><br />“Kita terus monitoring termasuk di dua lokasi temuan pertama, yang jelas ini akan jadi masalah dalam pentanian jika tidak disikapi dengan serius,” imbuhnya.<br /><br />Hal senada disampaikan Bupati Sintang, Milton Crosby yang melihat ada yang terganggu dalam rantai makanan yang berhubungan dengan ulat bulu.<br /><br />“Semut rangrang, burung atau musuh alami lainnya berkaitan erat dengan ulat bulu ini, makanya saya harapkan masyarakat bisa memahami ini dan menghentikan perburuan predator alami ulat,” tukasnya.<br /><br />Munculnya serangan ulat bulu itu kata milton menjadi peringatan juga bagi dinas terkait seperti pertanian dan penyuluhan untuk lebih mengintensifkan pengawasan perkembangan hama tanaman.<br /><br />”Pencegahan itu penting dan saya kira pengawasan dengan ketat terhadap perkembangan hama perlu dilakukan untuk menekan ledakan populasi hama tanaman,” tukasnya.<br /><br />Ia meminta masyarakat juga tidak panik terhadap serangan ulat bulu ini karena sampai saat ini belum ada ulat bulu yang menyerang tanaman pertanian atau manusia.<br /><br />“Yang jelas kita waspada saja, perhatikan lingkungan sekitar, jika menemukan ulat bulu dalam jumlah banyak segera laporkan ke pemerintah agar bisa segera diatasi,” harapnya.<br /><br />Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) kalbar, Hendrikus Adam melihat ada keterkaitan erat antara munculnya ulat bulu dan perubahan iklim global yang ditandai dengan menurunnya kualitas lingkungan.<br /><br />“Ekploitasi besar-besaran dan masif terhadap hutan, invetasi perkebunan kelapa sawit yang cenderung mengabaikan pelstarian lingkungan dan berbagai tindakan yang tidak ramah lingkungan mengakibatkan munculnya berbagai jenis hama dan penyakit tanaman yang habitat alaminya terganggu,” kata dia.<br /><br />Perubahan lingkungan yang cukup kentara menurut Adam bisa dilihat sepanjang tahun 2010 dimana nyaris tidak kemarau panjang dan banjir yang melanda beberapa kali seperti di Sintang.<br /><br />“Kondisi itu memberikan tempat yang kondusif bagi hama seperti ulat bulu berkembang, apalagi sampai saat ini hujan masih sering turun,” imbuhnya. <br /><br />Selain itu ia juga mengingatkan penggunaan pestisida yang berlebihan pada suatu kawasan bisa menimbulkan bencana serangan hama yang resisten terhadap pestisida.<br /><br />“Penggunaan pestisida yang berlebihan berpotensi menimbulkan ledakan populasi hama kedua, artinya hama penggangu tanaman ini bermutasi sehingga menghasilkan hama yang tahan terhadap pestisida kimia yang sering digunakan saat ini,” ujarnya.<br /><br />Ia mengatakan jika masalah lingkungan tidak segera diatasi dan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian terhadap upaya pelestarian lingkungan, dikhawatirkan akan muncul serangan hama dalam jumlah besar dimasa yang akan datang.<br /><br />“Kalau sudah menyerang tanaman pertanian, maka akan berdampak pada ketersediaan bahan pangan di masyarakat, kita bisa mengalami krisis pangan dan saya kira ini penting untuk segera diantisipasi,” pungkasnya. <strong>(phs)</strong></p>

Berita Terkait

Bupati Barito Utara Resmikan Pemancangan Tiang Listrik di Empat Desa Teweh Timur
Polres Sintang Kenalkan Rambu Lalu Lintas Sejak Dini Lewat Program Polisi Sahabat Anak
Unit Kamsel Sat Lantas Polres Sintang Gelar Penyuluhan Keliling di Sejumlah Titik Rawan Lalu Lintas
Asisten 1, Hadiri Raker dan Ramah Tamah Camat Dedai Dengan Kades dan Ketua BPD Se Kecamatan Dedai
Sekda Sintang Kecewa Realisasi Anggaran Pemkab Sintang Tahun 2025 Hanya 81,59 Persen
Realisasi APBD 2025 Kecil, Bupati Sintang Minta OPD Sering Rapat Evaluasi
UMKM Desa Kalbar Tampil di Hari Desa Nasional 2026, Kerupuk hingga Dodol Durian Paling Diminati
Awal Tahun 2026 Bertemu Kepala OPD, Bupati Sintang Berikan Arahan

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:29 WIB

Bupati Barito Utara Resmikan Pemancangan Tiang Listrik di Empat Desa Teweh Timur

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:15 WIB

Polres Sintang Kenalkan Rambu Lalu Lintas Sejak Dini Lewat Program Polisi Sahabat Anak

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:12 WIB

Unit Kamsel Sat Lantas Polres Sintang Gelar Penyuluhan Keliling di Sejumlah Titik Rawan Lalu Lintas

Rabu, 14 Januari 2026 - 17:15 WIB

Asisten 1, Hadiri Raker dan Ramah Tamah Camat Dedai Dengan Kades dan Ketua BPD Se Kecamatan Dedai

Rabu, 14 Januari 2026 - 17:12 WIB

Sekda Sintang Kecewa Realisasi Anggaran Pemkab Sintang Tahun 2025 Hanya 81,59 Persen

Berita Terbaru