4.388 Hektare Tanaman Padi Terancam Puso

oleh

Seluas 4.388 hektare tanaman padi di beberapa kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Banten, terancam puso akibat terendam banjir yang melanda daerah itu sejak Minggu (27/3). <p style="text-align: justify;">Seluas 4.388 hektare tanaman padi di beberapa kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Banten, terancam puso akibat terendam banjir yang melanda daerah itu sejak Minggu (27/3).<br /><br />Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten Dedi Ruswansyah mengatakan, pihaknya masih kesulitan untuk melakukan monitoring di lapangan mengenai keseluruhan jumlah sawah yang terendam banjir, hal ini karena banjir masih merendam sawah di sejumlah kecamatan di Pandeglang.<br /><br />"Data sementara sawah yang terendam banjir di tujuh kecamatan di Pandeglang sebanyak 4.388 hektare," kata Dedi Ruswansyah.<br /><br />Ia mengatakan, dalam upaya mengantisipasi kemungkinan tanaman padi tersebut puso akibat banjir, pihaknya sudah meminta kabupaten/kota agar mengusulkan cadangan benih nasional ke Dinas Pertanian Provinsi Banten, apabila hasil monitoring yang dilakukan pada jumlah padi yang mengalami puso sangat signifikan.<br /><br />Menurut Dedi, seluas 4.388 hektare tanaman padi yang terkena banjir di Pandeglang tersebut tersebar di Kecamatan Panimbang 345 hektare dengan umur tanaman tujuh sampai 22 hari setelah tanam, kemudian di Kecamatan Pagelaran seluas 974 hektare umur 1-46 hari.<br /><br />Di Kecamatan Sukaresmi seluas 1.804 hektare dengan umur tanaman 7-30 hari, di Kecamatan Patia seluas 537 hektare umur tanaman 10 sampai 36 hari, di Kecamatan Munjul 128 hekare berumur 0-15 hari, di Kecamatan Angsana 350 hektar umur 7-22 hari dan di Kecamatan Sobang seluas 250 hektare berumur tanaman padi 7-30 hari setelah tanam.<br /><br />"Tanaman padi yang baru berumur beberapa hari tidak akan bisa bertahan lama jika terendam air dua hingga tiga hari," kata Dedi Ruswansyah.<br /><br />Dedi mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan bantuan bagi petani yang sawahnya terendam banjir di Kabupaten Pandeglang yang terjadi mulai Minggu (27/3). Bantuan yang disiapkan dari cadangan benih nasional di Banten jumlahnya bisa untuk kebutuhan sekitar 40 ribu hektare.<br /><br />Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten Suyadi Wiraatmaja mengatakan, banjir di beberapa kecamatan di Pandeglang yang terjadi sejak Minggu (27/3) sudah mulai surut, namun demikian masih ada beberapa desa yang terisolasi sehingga kesulitan untuk mengirimkan bantuan . "Dibandingkan dua hari sebelumnya yang mencapai 0,5 hingga 1 meter, sebagian besar daerah yang terendam banjir hari ini sudah mulai surut. Tapi ada beberapa desa yang masih terisolasi," kata Suyadi.<br /><br />Ia mengatakan, dengan surutnya banjir tersebut warga sudah mulai beraktivitas membersihkan rumahnya dan bantuan dari Pemkab Pandeglang serta Pemprov Banten sudah bisa masuk ke desa-desa pelosok yang sebelumnya terisolasi.<br /><br />Namun demikian, jika curah hujan tinggi dan air laut kembali pasang, maka baniir akan kembali mengancam warga yang berada di sekitar Sungai Cilemer dan Ciliman.<br /><br />Beradasarkan data yang dihimpun BPBD Banten dari laporan pemerintah Kabupaten Pandeglang Senin (28/3), jumlah rumah yang terendam banjir di lima kecamatan sebanyak 6.761 unit rumah dan sawah yang terendam seluas 2.680 ha.<br /><br />Jumlah rumah yang terendam banjir tersebut berada di Kecamatan Picung 1.104 unit rumah 18 diantaranya rusak berat dan 175 ha sawah terendam, di Kecamatan Munjul 1.435 rumah dan 815 ha sawah terendam banjir, di Kecamatan Patia 1.332 rumah dan 404 ha sawah teredam, di Kecamatan Sukaresmi 2.282 rumah dan 960 hektar sawah serta di Kecamatan Sindangresmi 608 rumah dan 326 ha sawah juga terkena banjir. (Eka/Ant)</p>