Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, Ustadz Ahmad Fauzi mengungkapkan, memasuki Tahun Baru Islam atau 1 Muharram 1432 Hijriyah agar dijadikan momen introspeksi diri. <p style="text-align: justify;">"Sebagai seorang Muslim, perlu sejenak menghayati beberapa hal terkait penanggalan Islam dan umat harusnya merayakan pergantian tahun dengan banyak beristighfar," kata Fauzi di Ngabang, Senin (06/12/2010).<br /><br />Menurutnya, beberapa hal harusnya dijadikan renungan pada saat tahun baru nanti. Di antaranya muhasabah dan sunah berpuasa. Muhasabah adalah introspeksi diri.<br /><br />"Kita menghisab diri kita sebelum nanti kita dihisab. Jangan sampai kita menyesal nanti karena waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi. Sementara disadari atau tidak, kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal saleh," urainya Fauzi.<br /><br />Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal saleh. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang Muslim yang beriman pada Allah dan hari akhir.<br /><br />"Pergantian tahun bukan sekadar pergantian kalender saja, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu dan apa yang akan kita perbuat esok," tegas Fauzi.<br /><br />Ia menambahkan, 1 Muharam merupakan tanggal di mana umat Islam merayakannya sebagai tahun baru Islam.<br /><br />Tiap tahunnya, umat Islam merayakannya dengan penuh semangat yang tersalurkan dalam kegiatan-kegiatan, seperti mengaji, mendengar ceramah di tablig akbar, doa bersama, dan sebagainya.<br /><br />"Sebagaimana kita maklumi bahwa hijrahnya rasul ke Madinah merupakan awal dari kebangkitan Islam," urainya.<br /><br />Setelah melakukan dawahnya di Makkah dengan penuh kesabaran dari berbagai cobaan yang dilakukan para musyrikin Quraisy, akhirnya Allah memerintahkan nabi dan para sahabat untuk berhijrah ke Madinah.<br /><br />Karena ini adalah perintah Allah, maka tak heran hanya dalam waktu tak lama Islam berkembang begitu pesat. Hijrah rasul bukan semata ide dari rasul, tapi merupakan perintah Allah yang pasti terkandung makna di balik semuanya.<br /><br />"Hingga hijrah bisa dimaknai meninggalkan sesuatu demi Allah dan rasul-Nya. Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada di sisi-Nya serta demi Rasul-Nya artinya ittiba dan senang terhadap tuntunan Rasul," ulas Fauzi. <strong>(phs/Ant)</strong></p>










