Pemerintah Kabupaten Sintang terus mendukung dan mendorong agar masyarakat bisa kreatif dan produktif. Kreatif memanfaatkan berbagai potensi yang ada di sekitar kita dan produktif menghasilkan barang yang dibutuhkan masyarakat. Demikian diungkapkan Wakil Bupati Sintang Drs. Ignasius Juan, MM saat meninjau tempat pengembangan jamur tiram yang dikelola oleh Asosiasi Petani Jamur Sekawan Jaya di jalan kelam pada Rabu, 15 Desember 2010. <p style="text-align: justify;">“saya berharap kelompok tani ini bisa mengembangkan usaha jamur ini baik. Desain lah berbagai peralatan yang lebih besar seiring dengan perkembangan usaha jamur ini. Kita melalui Dinas Pertanian akan terus membina kelompok tani seperti ini” jelas Wabup.</p> <p style="text-align: justify;">Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sintang Ir. Arbudin, M. Si menyampaikan komitmennya untuk terus membina dan membantu para petani yang secara swadaya berupaya untuk kreatif dan produktif melalui Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) yang saat ini baru ada dua yakni di Binjai Hulu dan Kelurahan Tanjung Puri. “Dalam program ini yang dituntut adalah swadaya masyarakat. Kami sifatnya hanya membina saja. Seperti budidaya jamur tiram ini kami bantu untuk membagikan ilmu pengetahuan dan pemasaran” jelasnya.</p> <p style="text-align: justify;">Suwardjono, Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Sekawan Jaya menjelaskan dimulainya usaha budidaya jamur tiram ini sejak 29 Desember 2009. Usaha budidaya jamur tersebut berjalan lancar dengan berhasil panen perdana sejak Januari 2010 yang lalu. “hasil panen berupa jamur tiram ini sudah kami jual ke instansi pemerintah juga ke pasar sayur di Kota Sintang dengan harga 30.000-40.000 per kilogram. Sambutan masyarakat sangat tinggi bahkan kami kewalahan memenuhi permintaan pasar. Jamur tiram ini juga sudah kami olah menjadi kopi dan keripik. Bahkan produk turunan jamur tiram tersebut sudah pernah dinikmati oleh Bupati dan Wakil Bupati Sintang saat Pameran Pekan Daerah kemarin” tutur Suwardjono.</p> <p style="text-align: justify;">Sementara Abdusomad dan Dana anggota kelompok tani Sekawan Jaya, menuturkan mereka bisa panen setiap hari dengan 5-10 kg jamur tiram setiap hari. Saat ini ada 2000 kantong poliback yang sedang berproduksi. “kami hanya berusaha memanfaatkan limbah sawmill (serbuk kayu) yang melimpah sebagai bahan baku utama. serbuk kayu yang halus kami campur dengan kapur, bekatul, jagung halus dan kapur. Bahan yang sudah diaduk dimasukan dalam kantong khusus yang disebut media substrat, baru masuk ke proses pasturisasi. Dari proses ini, dua bulan kemudian baru bisa panen. Dulu kami masih mendatangkan bibit jamur dari Pulau Jawa. Tapi saat ini kami sudah bisa produksi bibit sendiri. Setiap kantong hanya bisa menghasilkan jamur hanya enam bulan. Setelah itu, kantong harus diganti dengan yang baru” jelas keduanya.</p> <p style="text-align: justify;">Dari beberapa literatur menyebutkan bahwa jamur tiram menjadi sumber protein alternatif karena mengandung 9 asam amino esensial. Jamur tiram memiliki kandungan protein yang tinggi yakni 19-35% bila dibandingkan dengan jenis makanan lain seperti beras ( 7,3%), gandum (13,2%) dan susu sapi (25,2%). Jamur tiram juga bisa dijadikan suplemen bagi pelaku diet karena mengandung serat berupa lignoselulosa yang baik bagi pencernaan, serta makanan alternarif bagi penganut vegetarian dan penderita kolesterol tinggi. Kandungan gizinya juga tinggi yang setara dengan daging. <strong>(phs)</strong></p>










