Kementerian Kelautan dan Perikanan kini memiliki tiga Profesor riset baru di bidang kelautan dan perikanan dengan dikukuhkannya Dr. Haryanti, MS profesor di bidang Akuakultur, Dr.Ir. Wudianto, M.Sc di bidang Teknologi Penangkapan/Perikanan Tangkap, dan Dr. Ali Suman di Bidang Sumberdaya dan Lingkungan. <p style="text-align: justify;">"Keberadaan tiga profesor riset tersebut diharapkan penelitian di bidang kelautan perikanan terus dikembangkan dan disebarluaskan," kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dalam sambutannya disampaikan Kapusdatin KKP Soen`an H. Poernomo di Ballroom Gedung Mina Bahari III KKP, Jakarta, Kamis (23/12/2010). <br /><br />Kapusdatin KKP Soen`an H. Poernomo seperti mengutip Mentri KKP, mengatakan peneliti juga harus menghasilkan teknologi yang mudah, murah, cepat, dan siap diterapkan di lapangan. <br /><br />Menurut Fadel, teknologi yang sederhana namun efektif akan memicu usaha kelautan dan perikanan berbasis IPTEK (technopreneur). <br /><br />"Hal ini sangat diperlukan dalam pengembangan minapolitan," katanya dengan bertambahnya tiga orang Profesor Riset ini diharapkan semakin memperkuat KKP dalam meningkatkan produksi perikanan berbasis pengetahuan. <br /><br />Selain itu keberhasilan para peneliti yang dikukuhkan sebagai profesor tersebut juga diharapkan akan mendorong para peneliti muda untuk terus berkarya dan berinovasi demi kemajuan bangsa. <br /><br />Dalam penelitiannya, Dr. Haryanti, MS menemukan probiotik dari strain Alteromonas sp. BY-9 dalam pemeliharaan larva udang windu (P. monodon). <br /><br />Peneliti Utama di Balai Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali ini, juga telah menyederhanakan penggunaan probiotik tersebut dalam pakan alami, pakan buatan, maupun awetan untuk produksi benih udang windu. <br /><br />Penerapan probiotik adalah alternatif yang penting untuk menggantikan penggunaan antibiotik dan bahan kimia lain dalam budidaya udang. <br /><br />Aplikasi antibiotik dan terapi kimiawi yang tidak beraturan dalam akuakultur dapat mengakibatkan akumulasi residu dan perkembangan strain bakteri resisten. <br /><br />Sementara itu, Dr. Ir. Wudianto, MSc, dalam orasi ilmiah pengukuhan gelar profesornya, menyampaikan rekomendasi penggunaan teknologi penangkapan yang ramah lingkungan dalam pemanfaatan sumberdaya ikan demersal dan udang. <br /><br />Menurutnya, teknologi penangkapan yang ramah lingkungan bisa diterapkan pada alat-alat, jaring trawl yang dilengkapi BRD (Bycatch Reduction Devices), jaring tiga lapis untuk menangkap udang, rawai dasar untuk menangkap ikan demersal di perairan karang, dan set net untuk menangkap ikan di perairan pantai. <br /><br />"Peran pemerintah daerah pun sangat penting, mengingat jenis sumber daya ikan demersal dan udang umumnya berada di wilayah perairan kurang dari 12 mil, yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota dan provinsi," katanya. <br /><br />Salah satu dampak pengoperasian jaring trawl selama ini adalah adanya "bycatch" atau hasil tangkap sampingan (HTS). Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan sekitar 7 juta ton HTS dibuang ke laut per tahunnya. <br /><br />Industri perikanan trawl udang di daerah tropis termasuk sebagai penyumbang terbesar HTS ini. HTS yang dibuang ke laut bisa menyebabkan penurunan keanekaragaman sumberdaya ikan. <br /><br />Proses dekomposisi bangkai ikan akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem dasar perairan, bahkan dapat menurunkan kadar O2, seperti terjadi di dasar Perairan Arafura. <br /><br />Penelitian lain terkait udang, dilakukan oleh Dr. Ali Suman, yang berfokus pada jenis udang Penaeid. Potensi lestari udang Penaeid diperkirakan lebih dari 200 ribu ton per tahun, namun pemanfaatannya telah melebihi potensi lestarinya (over-fishing). <br /><br />Pola pengendalian sumberdaya yang saat ini ada di Indonesia baru pada taraf pembatasan, yang kurang didukung riset memadai dan cenderung berdasarkan wilayah administratif. <br /><br />Kondisi ini dikhawatirkan akan menyebabkan sumber daya udang penaeid di Indonesia terancam dan mengalami kepunahan. <br /><br />Dalam orasinya, Dr. Ali Suman merekomendasikan dua opsi pengendalian yang lebih baik. Pertama, dengan melakukan pengendalian kegiatan penangkapan (control of fishing) seperti membangun Kawasan Perlindungan Laut atau MPA (Marine Protected Areas), dan menutup daerah dan musim penangkapan. <br /><br />Kedua, melalui pengendalian upaya penangkapan (control of fishing effort), seperti pembatasan ukuran udang terkecil, pengaturan ukuran mata jaring, pembatasan upaya penangkapan, dan melalui kuota penangkapan. <strong>(phs/Ant)</strong></p>











