Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Christiandy Sanjaya, mengimbau, masyarakat tidak terpengaruh isu seputar kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi karena pemerintah belum berencana mengeluarkan kebijakan itu. <p style="text-align: justify;">"Sampai sekarang tidak ada rencana menaikkan harga BBM bersubsidi, walau krisis di Timur Tengah memengaruhi harga dan pasokan di tingkat dunia," katanya di Pontianak, Senin.<br /><br />Saat ini harga rata-rata minyak mentah di pasar dunia di angka 115 dolar AS per barel, sementara di APBN dipatok di kisaran 80 dolar AS per barel.<br /><br />Namun, katanya, harus diakui bahwa Indonesia tidak akan terlepas dari krisis di Timur Tengah dan kondisi pasar minyak mentah dunia.<br /><br />"Meski stok BBM aman, tetapi masyarakat diminta untuk berhemat, jangan boros menggunakan BBM bersubsidi," katanya.<br /><br />Berdasarkan informasi dari Pertamina Kalbar, stok premium mencukupi kebutuhan hingga 9,5 hari mendatang, solar 6,5 hari, minyak tanah 13 hari, dan bahan bakar untuk mesin pembangkit PLN tiga hari.<br /><br />Sales Area Manajer Pertamina Kalbar, Ibnu Chouldum, menjamin bahwa stok BBM di provinsi itu aman hingga beberapa hari mendatang.<br /><br />PT Pertamina Kalbar juga memberi sanksi sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang melanggar kesepakatan selama krisis BBM di provinsi itu beberapa waktu lalu.<br /><br />"Sanksi berupa teguran dan pasokan dikurangi biasanya selama satu bulan, "katanya.<br /><br />Ia menjelaskan, sanksi tersebut diberikan karena SPBU itu melayani pembeli yang menggunakan jerigen tanpa dilengkapi rekomendasi dari pemerintah daerah setempat.<strong> (phs/Ant)</strong></p>











