Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, menargetkan produksi gabah kering giling meningkat dari 190 ribu ton menjadi 216 ribu ton atau 14 persen di tahun 2011. <p style="text-align: justify;">"Banyak yang menilai, kita terlalu optimistis untuk menetapkan target produksi sebesar itu," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kubu Raya, Suharjo, di Sungai Raya, Selasa.<br /><br />Hal itu karena mengacu dari produktivitas pada tahun sebelumnya yang menurun tiga persen, dari sekitar 197.000 GKG pada 2009 menjadi sekitar 190.000 GKG pada 2010.<br /><br />Suharjo menjelaskan, penurunan produktivitas pada 2010 dibandingkan 2009 itu disebabkan beberapa faktor diantaranya cuaca yang ekstrem, yakni hujan yang terus menerus sehingga banyak lahan pertanian yang terendam air.<br /><br />Ia mencontohkan masyarakat di Kecamatan Terentang yang tidak bisa menanam padi, karena lahan terendam air sampai lima bulan sehingga berkali-kali dicoba tetapi gagal panen.<br /><br />Ia menambahkan, hal itu membuat luas areal tanam sekitar 59.000 hektare tidak semuanya berhasil panen pada 2010 sehingga terjadi penurunan produktivitas pertanian tiga persen.<br /><br />Kendati terjadi penurunan produksi, Kabupaten Kubu Raya masih surplus beras mencapai 35.000 ton. Hal tersebut dilihat dari tingkat kebutuhan per kapita sekitar 139,15 kilogram per tahun.<br /><br />"Memang dengan produksi 190.000 ton GKG itu masih terdapat surplus sekitar 35.000 ton per tahun, tetapi produksi kita banyak dijual ke Pontianak yang jumlah penduduknya lebih banyak," kata Suharjo.<br /><br />Sesuai dengan potensi yang dimiliki, kata Suharjo, Pemkab Kubu Raya tetap optimistis mampu meningkatkan produktivitas GKG pada tahun ini hingga 14 persen.<br /><br />Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai target tersebut. Diantaranya menambah areal tanam seluas 15.000 hektare melalui program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT).<br /><br />"Program ini kita fokuskan pada musim gadu (kering, red), sebagai upaya untuk peningkatan produksi," jelas Suharjo. Selain itu, tambah dia, di Kubu Raya juga dilakukan pencetakan sawah seluas 600 hektare dan optimalisasi lahan seluas 500 hektare untuk tahun ini.<br /><br />"Optimalisasi lahan ini maksudnya, lahan yang tadinya dimanfaatkan sekedarnya ditingkatkan lagi, misalnya semula hanya bisa tanam satu kali per tahun, diupayakan menjadi dua kali per tahun, atau kalau daya lahannya mendukung bisa tanam tiga kali setahun," paparnya.<br /><br />Dia menjelaskan, untuk menggerakan sektor pertanian tersebut, bukan hanya dari sisi pemanfaatan lahan, tetapi bagaimana mengajak seluruh komponen masyarakat untuk memanfaatkan lahannya.<br /><br />Berbagai upaya ditempuh untuk mengajak masyarakat, diantaranya melalui dorongan, promosi melalui media massa dan penyuluhan. "Kita lihat animo masyarakat cukup tinggi untuk mengembangkan sektor pertanian atau memanfaatkan lahan-lahan pertanian," kata Suharjo.<br /><br />Ia mengakui, animo masyarakat cukup tinggi untuk mengembangkan sektor pertanian, karena tidak ada lagi sektor yang paling cepat menyerap tenaga kerja dibandingkan sektor pertanian di Kabupaten Kubu Raya.<br /><br />"Paling terbuka adalah sektor pertanian secara luas," kata Suharjo.<br /><br />Dia mengatakan, untuk menekuni sektor pertanian, masyarakat tidak lagi memerlukan keahlian khusus untuk bekerja, mereka hanya membutuhkan pembinaan-pembinaan.<br /><br />"Kapan saja, mereka bisa memanfaatkan lahan untuk bertani, kebetulan juga, kondisi harga pangan cukup baik, sehingga masyarakat banyak yang tertarik," ujar Suharjo. <strong>(phs/Ant)</strong></p>











