Oleh: Yoseph Siprianus Kerobi Sogen
Dari kegelapan malam di kaki Gunung Ile Mandiri, sebuah transaksi digital sederhana menyingkap ketimpangan yang masih menghimpit jutaan warga di pinggiran Indonesia.
Malam itu di pelosok Flores Timur, sekitar pertengahan November 2024, sunyi mendadak kehilangan jiwanya. Bunyi melengking yang akrab dari meteran listrik pascabayar menandai akhir dari pasokan daya, disusul gulita yang jatuh seketika. Di tanah Lewolema, kegelapan bukan sekadar hilangnya cahaya, namun sekat tebal yang mengepung ruang gerak manusia.
Rumah masa kecil saya berdiri di Desa Bantala, sebuah wilayah yang dipeluk erat oleh jajaran perbukitan purba dan bayang-bayang megah Gunung Ile Mandiri serta Bukit Bantala. Ketika malam menjemput, jarak menuju pusat kota Larantuka terasa kian menjauh, membelah keheningan alam yang dalam.
Di dalam kantong, gawai saya bergetar pelan menampilkan sisa daya baterai yang kritis. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan cahaya ke dalam rumah adalah transaksi digital. Selama bertahun-tahun, saya mengandalkan BNI Mobile Banking untuk segala urusan finansial. Namun malam itu, sistem mengarahkan saya ke sebuah wajah anyar: wondr by BNI.
“Di kaki gunung seperti Lewolema, sinyal harus dijemput dengan kecemasan. Di sinilah inovasi digital diuji, bukan sekadar kosmetik urban, melainkan penyelamat hajat hidup yang harus tangguh bekerja di titik-titik tersunyi Nusantara.”
Sebagai nasabah yang menyimpan kartu ATM BNI pertama kali sejak 2012, momen itu memicu detak jantung yang lebih cepat. Berdiri di sudut teras di bawah tatapan Bukit Bantala dan embusan angin dingin dari lereng Ile Mandiri, saya menantang malam demi mencari secuil sinyal yang timbul tenggelam. Pilihannya hanya dua: mengunduh aplikasi baru di tengah keterbatasan pita data pedalaman, atau membiarkan rumah tenggelam dalam gulita hingga fajar tiba.
Ketika unduhan genap seratus persen dan transaksi token listrik sukses, lampu kembali menyala. Saat itulah sebuah paradoks besar menghadang saya. Data APJII 2025 mencatat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 80,66 persen melampaui 229 juta jiwa. Angka makro ini terdengar megah di atas kertas korporasi, namun ia menyembunyikan jurang yang tampak lebar: penetrasi di perkotaan menyentuh 85,53 persen, sementara pedesaan tertinggal di angka 76,96 persen. Di kota-kota besar, internet melimpah ruah; di kaki gunung seperti Lewolema, ia harus dijemput dengan kecemasan.
Ironi Rp25.000: Jeritan Uang Tunai di Kaki Ile Mandiri
Namun kisah di balik benteng alam Lewolema tidak selesai hanya dengan menyalanya sebutir bohlam. Transformasi digital barulah satu sisi dari mata uang kedaulatan ekonomi. Di sisi lainnya, ada realitas fisik yang masih bertumpu pada perputaran uang tunai, sebuah realitas yang setiap hari menghimpit urat nadi perekonomian warga Desa Bantala.
Secara geopolitik lokal, Bantala adalah desa penyangga yang menghubungkan kampung-kampung di sekeliling Kecamatan Lewolema. Letaknya strategis, menjadi urat nadi lintasan warga dari pedalaman menuju kota. Namun di balik statusnya itu, Bantala menyimpan ironi perbankan yang akut: untuk sekadar menarik uang tunai dalam situasi mendesak, warga harus menempuh perjalanan jauh memutari lereng Ile Mandiri menuju Larantuka.
Pilihan alternatif yang paling realistis adalah mendatangi kios-kios agen informal di desa. Di sana, warga harus merogoh kocek hingga Rp25.000 hanya untuk biaya administrasi satu kali penarikan. Bagi masyarakat urban, angka itu mungkin setara segelas kopi sore. Namun bagi ibu saya dan ibu-ibu lainnya di Desa Bantala, jumlah itu adalah keluhan yang terus berulang dan menyayat. Uang segitu bisa bertukar menjadi beberapa kilogram beras, seliter minyak goreng, atau ongkos anak pergi ke sekolah.
“Inilah eksklusi keuangan yang nyata: masyarakat di kaki gunung yang paling membutuhkan efisiensi justru harus membayar lebih mahal untuk mengakses hak atas uang mereka sendiri.”
Di sinilah BNI, dalam usianya yang ke-80, ditantang untuk melangkah lebih jauh melampaui batas kaca gawai. Sebagai bank milik negara yang lahir dari rahim kemerdekaan, penyediaan infrastruktur fisik, yakni mesin ATM di pusat kecamatan atau desa strategis seperti Bantala bukan lagi sekadar hitung-hitungan untung-rugi korporasi. Karena ini menyoal urusan keadilan sosial. Menempatkan ATM BNI di Bantala sebagai titik penyangga Lewolema adalah langkah taktis untuk memutus rantai “pajak informal” yang membebani rakyat kecil, sekaligus memastikan kemandirian ekonomi rakyat berkelindan pada jalur yang benar-benar merdeka.
Menatap 80 Tahun: Melipat Jarak, Merawat Kemanusiaan
Menatap perjalanan BNI yang menyentuh usia 80 tahun pada 2026, ingatan saya kembali terlempar ke tahun 2012. Saat itu, memegang kartu debit BNI berlambang merah jambu adalah simbol kemandirian awal seorang anak muda. Hubungan antara nasabah dan bank dijembatani selembar plastik bermagnet dan slip kertas yang keluar dari mesin ATM di sudut kota.
Empat belas tahun kemudian, realitas itu telah didekonstruksi secara masif. BNI tidak lagi sekadar tempat penitipan uang yang pasif. Melalui perpaduan akselerasi digital seperti wondr by BNI dan perluasan jaringan fisik lewat mesin ATM maupun standardisasi Agen46, BNI harus mampu hadir sebagai ekosistem yang utuh: canggih di genggaman, namun tetap membumi dan terjangkau di kehidupan nyata masyarakat pinggiran.
Sebab hakikat dari kehadiran bank BUMN adalah keberpihakan. Kita tidak boleh membiarkan daerah-daerah penyangga yang dikepung perbukitan seperti Lewolema kelaparan akses di tengah gegap gempita digitalisasi nasional. Keunggulan sistem perbankan yang andal adalah kemampuannya memberikan rasa tenang, baik saat mentransfer dana lewat aplikasi di tengah malam yang sunyi, maupun saat menarik selembar uang kertas di pasar desa tanpa tercekik biaya administrasi yang tinggi.
Jembatan Cahaya yang Adil dari Pinggiran
Malam yang semula pekat di Flores Timur akhirnya kembali dipenuhi cahaya hangat. Bagi saya, menyalanya kembali lampu rumah atau terbukanya akses keuangan yang murah dan adil, bukan sekadar urusan teknis perbankan. Itu adalah simbol hadirnya negara melalui lembaga keuangannya, yang memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang ditinggalkan dalam kegelapan dan ketidakberdayaan, seberapa jauh pun mereka tinggal dari pusat kekuasaan.
Delapan puluh tahun adalah pembuktian tentang daya tahan, kebangkitan, dan dampak. Namun dampak yang sesungguhnya dari sebuah usia bukan pada megahnya angka-angka statistik di lantai bursa Jakarta, melainkan pada seberapa banyak beban di pundak rakyat kecil di Desa Bantala yang berhasil diringankan.
Dari selembar kartu ATM di tahun 2012, ketukan digital wondr by BNI, hingga harapan besar akan hadirnya mesin ATM di pelosok Lewolema, harapan sederhananya BNI harus terus berjalan sebagai jembatan cahaya yang merajut kedaulatan Indonesia secara utuh, adil, dan merata dari pinggiran Nusantara.










