Mahasiswi yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) wilayah Aceh menilai banyak wanita Aceh yang larut dalam arus globalisasi dewasa ini. <p style="text-align: justify;">Mahasiswi yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) wilayah Aceh menilai banyak wanita Aceh yang larut dalam arus globalisasi dewasa ini.<br /><br />Pernyataan tersebut disampaikan Koordinator aksi KAMMI wilayah Aceh, Ira Rosmalinda pada aksi damai dalam rangka memperingati Hari Kartini di bundaran Simpang Lima, Kamis.<br /><br />"Banyak wanita di Aceh yang berpakaian tidak menutup aurat dan menyimpang dari hukum syariat Islam serta tidak berprilaku seperti orang yang berbudaya timur, mereka tidak bangga dengan anugerah keislaman yang dimilikinya," kata Ira Rosmalinda.<br /><br />Pada aksi yang dikuti belasan mahasiswi itu, ia juga menyatakan bahwa kalangan wanita muda Aceh telah terperangkap dalam kebodohan yang ditularkan melalu mode.<br /><br />Menurutnya, banyak model pakaian yang tidak sesuai dengan ajaran islam menjadi kebanggaan perempuan Aceh, seharusnya pakaian yang sesuai syariah menjadi kebanggaan bagi kaum muslimah.<br /><br />"Aceh telah memberlakukan hukum syarriat islam seharusnya menjadi kebanggaan bagi kaum muslimah di daerah yang berjuluk serambi mekah ini," katanya.<br /><br />Dalam aksi yang diwarnai teaterikal itu, KAMMI juga mengajak wanita Aceh untuk melakukan intropeksi diri agar tidak larut dalam arus globalisasi.<br /><br />"Tidak sedikit wanita Aceh yang suka berfoya-foya, bergosib dan melakukan perbuatan yang menyimpang dari peraturan hukum, saya berharap perempuan Aceh dapat menunjukan kemuslimahannya," kata Ira Rosmalinda. (Eka/Ant)</p>










