Kepala Seksi Pelayanan Publik Perum Bulog Sub Divre Wilayah III Sintang, Halfid Handi Agus mengatakan harga beras di pasar menjadi kendala bagi Perum Bulog untuk melakukan pembelian beras produksi lokal. <p style="text-align: justify;">“Dengan kondisi yang ada sekarang, masyarakat lebih memilih menjual ke pasar karena harganya lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga dari Bulog,” katanya, kepada kalimantan-news beberapa waktu lalu.<br /><br />Tahun ini Perum Bulog Regional Kalbar dapat insentif Rp 300 untuk setiap pembelian satu kilogram beras atau gabah petani lokal, sementara disisi lain, pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk komoditi beras adalah Rp 5.060 per kilogram.<br /><br />“Itu yang jadi kendala, meskipun ada insentif, tetap saja masih kalah dari harga pasaran, itu hitungan ekonomi, petani juga tentunya mencari pembeli dengan harga yang lebih tinggi,” kata dia.<br /><br />Ia menjelaskan, beberapa waktu lalu pernah dicoba untuk membeli beras lokal untuk memenuhi kebutuhan program raskin dan distribusinya juga tidak akan jauh dari tempat membeli sehingga bisa mengurangi biaya angkutnya.<br /><br />“Kami pernah coba ke Manis Raya yang merupakan sentra pertanian intensif di sintang, pernah juga kami ke Kecamatan Kelam karena disana produksi padinya juga tingga,” ujarnya.<br /><br />Namun menurutnya tetap saja program itu tidak bisa berjalan mengingat harga pasaran beras di luar harga pembelian pemerintah masih tinggi.<br /><br />“Padahal jika program itu berjalan dan bisa dipenuhi, tentunya pemenuhan kebutuhan raskin di suatu kecamatan akan lebih mudah dan bisa menghemat biaya distribusi,” tukasnya.<br /><br />Ia melihat, pemenuhan kebutuhan bahan pangan di masyarakat seperti beras saat ini memang masih cukup dominan diperoleh dari distribusi.<br /><br />“Saya kira produksi di Sintang sudah cukup tinggi, namun banyak juga yang hanya menggunakan untuk pemenuhan kebutuhan sendiri, kalaupun ada yang dijual hasilnya juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri selain beras dan petani tetap mencari harga yang lebih tinggi,” imbuhnya.<br /><br />Pada kondisi beras yang harganya mulai meningkat ini, ia mengatakan Perum Bulog memiliki peran untuk menatau fluktuasi harga beras di pasaran umum sehingga ketika ada kenaikan yang cukup siginifikan dan dinilai memberatkan masyarakat, tentunya operasi pasar akan siap digelar<br />.<br />“Kita koordinasikan dengan Pemda setempat untuk operasi pasar terutama ketika ada kenaikan yang cukup tinggi,” tukasnya.<br /><br />Pada dasarnya kata dia, dengan adanya HPP itu, petani akan mempunyai perkiraan harga untuk melepas produksinya sehingga ada daya tawar yang lebih baik ketika petani harus memilih antara melepas ke pasaran umum atau ke Bulog.<br /><br />“HPP bisa jadi patokan bagi petani untuk memilih dan Bulog juag sudah punya standar untuk membeli hasil produksi petani,” ujarnya.<br /><br />Berdasarkan Inpres nomor 7 Tahun 2011, untuk gabah yang diterima Bulog adalah Gabah Kering Giling (GKG) dengan kualitas kadar air maksimum 14 persen dan kadar hampa kotoran maksimum 3 persen sehingga cukup tahan disimpan dalam waktu tertentu dan siap digiling untuk menghasilkan beras standar pada saatnya.<br /><br />Sementara, persyaratan kualitas beras yang diterima Bulog adalah beras dengan kadar air maksimal 14 persen, butir patah maksimum 20 persen, butir menir maksimum 2 persen dan derajat sosoh minimal 95 persen. <strong>(phs)</strong></p>


















