Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mencatat terjadi kenaikan suhu udara maksimum dan minimum di Kota Pontianak selama periode 1984 hingga 2010 meski dalam kisaran yang sempit. <p style="text-align: justify;">"Untuk suhu maksimum, kenaikannya 0,5 derajat Celsius. Sedangkan suhu minimum, kenaikannya lebih tinggi yakni 0,9 derajat Celsius," kata Kamarudin, dari Stasiun Klimatologi Siantan BKMG Supadio Pontianak di Pontianak, Rabu.<br /><br />Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa Pontianak mengalami dampak dari pemanasan global yang berlangsung di seluruh belahan bumi.<br /><br />"Pemanasan global merupakan naiknya suhu rata-rata permukaan bumi pada beberapa dekade terakhir dan diperkirakan akan terus berlanjut," katanya.<br /><br />Secara umum, lanjut dia, selama abad 20 suhu permukaan bumi rata-rata naik 0,74 derajat Celsius dengan variasi lebih kurang 0,18 derajat Celsius.<br /><br />Ia menambahkan, penyebab utama dari pemanasan global adalah bertambahnya gas rumah kaca di atmosfer di mana 90 persen pemicunya karena aktivitas manusia.<br /><br />Ia melanjutkan, meski suhu dipastikan meningkat, namun dampak ke musim menjadi lebih bervariasi.<br /><br />"Ada yang musim kemaraunya lebih panjang, lebih pendek, ada juga yang stabil," kata dia.<br /><br />Intensitas curah hujan juga ada yang meningkat atau berkurang di satu daerah seperti Pulau Jawa dalam satu musim.<br /><br />Sementara sekitar 80 persen uap di atmosfer berasal dari penguapan air laut.<br /><br />Diperkirakan pula dalam kurun tahun 2015 – 2039 suhu permukaan air laut di perairan Kalbar meningkat 0,2 derajat Celsius hingga 0,8 derajat Celsius. <strong>(phs/Ant)</strong></p>














