BOS Untuk Wajar 9 Tahun yang Bermutu

oleh

Sintang dipastikan bebas sanksi finansial akibat telat mencairkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 2011. Per 21 Februari, dana yang ditujukan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan wajib belajar (Wajar) 9 tahun yang bermutu itu sudah masuk ke rekening sekolah. <p style="text-align: justify;">“Waktu rembuk nasional pendidikan, awalnya dikira Sintang telat, ternyata kita hanya telat laporan saja karena jauh sebelum tenggat waktu per 15 Maret, dana itu sudah ditransfer ke rekening sekolah, tepatnya pada 21 Februari lalu,” kata Senen Maryono, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten, Kamis (24/03/2011) di Sintang. <br /><br />Ia hadir dalam kegiatan Rembuk Nasional Pendidikan yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Nasional di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Bojongsari, Depok, Jawa Barat.<br /><br />Data Kemendiknas menyebutkan ada 497 kabupaten/kota yang menerima BOS dan per 15 Maret 2011 baru ada 36,6  persen atau 182 daerah yang telah mencairkan, sisanya 315 daerah masih mengendapkan dana BOS tersebut, termasuk di Kalbar karena yang telah mencairkan hanya 4 yaitu Sintang, Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya dari 14 kabupaten/kota.<br /><br />Ia mengatakan, pemerintah Kemendiknas telah mengeluarkan Permendiknas Nomor 37/2010 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana BOS Tahun Anggaran 2011 dimana dijelaskan sekolah bisa menggunakan dana tersebut untuk membiayai sejumlah kegiatan diantaranya pembelian/penggandaan buku teks pelajaran dengan pengaturan khusus jenis buku yang dibeli/digandakan.<br /><br />“Selain itu, dana BOS juga boleh untuk membeli buku teks pelajaran lainnya yang belum mencukupi sejumlah siswa,” kata dia.<br /><br />Dana tersebut juga bisa digunakan untuk pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru, yaitu biaya pendaftaran, penggandaan formulir, administrasi    pendaftaran, dan pendaftaran ulang, pembuatan spanduk sekolah bebas pungutan, serta kegiatan lain yang berkaitan langsung dengan kegiatan tersebut.<br /><br />“Pembiayaan kegiatan pembelajaran remedial, pembelajaran pengayaan, pemantapan persiapan ujian, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja, UKS dan sejenisnya,” jelasnya.<br /><br />Selain itu menurutnya BOS bisa digunakan untuk pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan hasil belajar siswa <br /><br />“Juga untuk membeli bahan-bahan habis pakai seperti buku tulis, kapur tulis, pensil, spidol, kertas, bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran/majalah pendidikan, minuman dan makanan ringan untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah, serta pengadaan suku cadang alat kantor,” ujarnya.<br /><br />BOS juga kata Senen bisa untuk pembiayaan langganan listrik, air, telepon, internet, termasuk untuk pemasangan baru jika sudah ada jaringan di sekitar sekolah.<br /><br />“Khusus sekolah yang tidak ada jaringan listrik, dan jika sekolah tersebut memerlukan listrik untuk proses belajar mengajar disekolah, maka diperkenankan untuk membeli genset,” jelasnya.<br /><br />Selain itu kata dia, BOS bisa untuk perawatan sekolah, yaitu pengecatan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela, perbaikan mebeler, perbaikan sanitasi sekolah, perbaikan lantai ubin/keramik dan perawatan fasilitas sekolah lainnya.<br /><br />“Boleh untuk bayar honorarium bulanan guru honorer dan tenaga kependidikan honorer. Untuk SD diperbolehkan membayar honor tenaga yang membantu administrasi BOS,” jelasnya.<br /><br />Bos kata dia juga bisa untuk pengembangan profesi guru seperti pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS. Khusus   sekolah yang memperoleh hibah/block grant pengembangan KKG/MGMP atau sejenisnya ditahun anggaran sama, tidak diperkenankan menggunakan dana BOS untuk peruntukan yang sama.<br /><br />“Dana BOS juga bisa untuk membantu biaya transportasi bagi siswa miskin yang menghadapi masalah biaya transport dari dan ke sekolah. Jika dinilai lebih ekonomis, dapat juga untuk membeli alat transportasi sederhana yang akan menjadi barang inventaris sekolah,” ucapnya.<br /><br />Sekolah juga kata Senen diperkenankan menggunakan dana itu untuk pembiayaan pengelolaan BOS seperti ATK penggandaan, surat-menyurat, insentif bagi bendahara dalam rangka   penyusunan laporan BOS dan biaya transportasi pengambilan dana BOS, juga bisa untuk membeli komputer dan printer untuk kegiatan belajar siswa, masing-masing maksimum satu unit dalam satu tahun anggaran.<br /><br />“Bila semua telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan masih terdapat sisa dana, maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan untuk membeli alat  peraga, media pembelajaran, mesin ketik, peralatan UKS dan mebeler sekolah,” pungkasnya. <strong>(phs)</strong></p>