Buruh di Provinsi Lampung umumnya mengeluhkan pemberlakuan kontrak kerja atau "outsourcing" karena sistem itu dinilai sangat merugikan mereka. <p style="text-align: justify;">Buruh di Provinsi Lampung umumnya mengeluhkan pemberlakuan kontrak kerja atau "outsourcing" karena sistem itu dinilai sangat merugikan mereka.<br /><br />"Pola kerja dengan sistem outsourcing itu sangat merugikan buruh," kata Junaidi, salah pekerja yang turut berdemo memperingati Hari Buruh Internasional (May Day), di Bandarlampung, Minggu.<br /><br />Menurut dia, upah yang diterima oleh sebagian besar tenaga kerja masih jauh di bawah standar hidup layak (SHL).<br /><br />"Sistem kerja kontrak atau outsourcing masih sangat merugikan, karena setiap terima gaji bulanan ada sebagian yang harus disetor ke perusahan outsourcing sehingga mengurangi penghasilan para buruh," kata dia.<br /><br />Ia berharap ke depan pola kerja dengan "outsourcing" tidak diberlakukan lagi di Indonesia.<br /><br />Sementara itu, sekitar 600 orang memadati bundaran Tugu Adipura Kota Bandarlampung dalam aksi damai memperingati Hari Buruh Internasional 1 Mei.<br /><br />Massa yang menamakan diri Perjuangan Rakyat Lampung (PRL) tersebut, melakukan "long march" dari depan Ramayana menuju bundaran Tugu Adipura.<br /><br />Massa gabungan dari 32 organisasi kemasyarakatan (ormas), LSM, OKP dan organisasi buruh ini melakukan "long march" melewati Jalan Radin Intan, Jalan Ahmad Yani, dan berakhir di Jalan Kartini atau tepat di depan mal Kartini Bandarlampung.<br /><br />Rifki, Koordinator lapangan aksi tersebut, mengatakan, aksi tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional 1 Mei.<br /><br />"Ini adalah aksi damai, sebagai wadah menyampaikan aspirasi para buruh yang sampai saat ini masih tertindas," katanya.<br /><br />Ia menambahkan, nasib buruh internasional apalagi buruh di Provinsi Lampung dirasakan masih jauh dari kesejahteraan, mulai dari upah yang tidak sesuai dengan standar hidup layak (SHL) sampai kepada kebijakan pemerintah yang dirasakan belum berpihak kepada nasib buruh.<br /><br />"Upah minimum regional yang hanya Rp865 ribu dirasakan masih jauh dengan standar hidup layak, jadi bagaimana buruh bisa menyejahterakan keluarganya," kata dia.<br /><br />Sedangkan, Kepolisian Daerah Lampung menurunkan sekitar 400 personel untuk mengamankan peringatan hari buruh itu.(Eka/Ant) <br /><br />Polisi juga menyiagakan mobil "water canon" di lokasi demo, untuk mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.<br /><br />Aksi yang dimulai pada pukul 11.00 WIB itu berlangsung aman dan kondusif, serta tidak terjadi hal-hal yang bersifat anarkis.</p>











