Ekspor CPO Indonesia Ke Jepang Akan Berpengaruh

oleh

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Dr Deddy Saleh, menyatakan, ekspor nonmigas Indonesia khususnya minyak kelapa sawit mentah/CPO ke Jepang akan berpengaruh, pasca tsunami yang melanda pantai timur-utara negara tersebut pada Jumat (11/3). <p style="text-align: justify;">Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Dr Deddy Saleh, menyatakan, ekspor nonmigas Indonesia khususnya minyak kelapa sawit mentah/CPO ke Jepang akan berpengaruh, pasca tsunami yang melanda pantai timur-utara negara tersebut pada Jumat (11/3).<br /><br />Usai acara sosialisasi kebijakan umum di bidang ekspor hasil pertanian dan kehutanan di Palembang, Senin, Dirjen Perdagangan Luar Negeri itu menyatakan, pasca tsunami melanda negeri Sakura tersebut pasti akan ada pengaruhnya terhadap produk ekspor CPO Indonesia.<br /><br />Pengaruh pergerakan ekspor salah satu komoditas hasil perkebunan utama Indonesia itu pasti ada, namun seberapa besarnya belum bisa dipastikan, karena mau melihat dulu seberapa besar kerusakan infrastruktur di negara matahari terbit tersebut, katanya.<br /><br />Menurut dia, jika pengaruhnya begitu besar terhadap ekspor CPO termasuk produk lainnya, pihaknya akan mencari solusi misalnya mengalihkan kegiatan ekspor beberapa produk nonmigas ke negara konsumen lain.<br /><br />Ia mengakui, ekspor CPO Indonesia terbesar ditujukan antara lain ke China dan Jepang serta Amerika Serikat (AS). <br /><br />Mengenai perkembangan ekspor nonmigas Indonesia, menurut Dirjen Perdagangan Luar Negeri yang juga alumni fakultas pertanian Universitas Sriwijaya lulusan tahun 1978 ini, ekspor nonmigas Indonesia priode Januari 2011 meningkat 29,0 persen dibandingkan Januari 2010.<br /><br />Nilai tersebut, kata dia, jauh di atas target tahun 2011 sebesar 12-15 persen.<br /><br />Dikemukakannya, ekspor nonmigas nasional Januari 2011 mencapai nilai 11,9 miliar dolar Amerika Serikat, adalah nilai "bulanan" Januari tertinggi selama ini, atau meningkat 89,5 persen, dan 34,1 persen dibanding Januari 2009 dan Januari 2008.<br /><br />Dikatakannya, kinerja ekspor Januari 2011 memperlihatan penguatan ekspor nonmigas terus berlanjut di tahun 2011.<br /><br />Sementara surplus neraca perdagangan nonmigas Januari 2011 mencapai nilai 2,4 miliar dolar Amerika Serikat, meningkat sebesar 39 persen dibandingkan Januari 2010.<br /><br />Sedangkan neraca perdagangan migas bulan Januari 2011 mengalami defisit 0,5 miliar dolar AS. Peningkatan nilai impor migas terjadi akibat kenaikan harga minyak, sebagai dampak dari krisis politik di Mesir dan sebagian negara produsen di Tumur Tengah, paparnya.<br /><br />Selanjutnya, kontribusi 10 produk utama dalam ekspor nonmigas sebesar 47,5 persen, paling dominan peningkatan komoditas sawit, produk laut, kakao lebih didorong oleh kenaikan harga. Sedangkan produk manufaktur seperti TPT, elektronik, alas kaki, otomotif karena peningkatan jumlah volume.<br /><br />Khusus produk sawit terutama minyak sawit mentah (CPO), menurut Deddy, dari total produksi sekarang kisaran 17 juta ton per tahun, akan terus ditingkatkan hingga mencapai 40 juta ton per tahun.<br /><br />Menurut dia, dari total produksi CPO Indonesia itu, hingga saat ini mencapai 90 persennya diekspor, sedangkaan sisanya untuk konsumsi dalam negeri.<br /><br />Sedangkan konsentrasi lima pasar ekspor Indonsia, sekarang ini telah mengalami perubahan menjadi Jepang, China, Amerika Serikat (AS), India dan Singapura. China menggeser posisi AS, sedangkan India menggeser posisi Singapura dan Malaysia.<br /><br />Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel, H Eppy Mirza, pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa kegiatan ekspor nonmigas provinsi itu setiap tahun mampu memasok devisa sangat signifikan, terutama melalui beberapa komoditas andalan seperti karet, CPO, bubur kertas, batubara dan pupuk.<br /><br />Ia mencontohkan, realisasi ekpor nonmigas Sumsel priode Januari-Oktober 2010 saja menghasilkan devisa total 2,818 miliar dolar AS dengan volume 6,016 juta ton, dan dihasilkan melalui 24 jenis komoditas andalan antara lain karet, produk kelapa sawit termasuk CPO, batubara, bubur kertas, urea, udang, amonia, kopi dan produk kayu.<br /><br />Sedangkan negara tujuan ekspor nonmigas Sumsel periode tersebut ditujukan ke 59 negara konsumen, namun paling dominan adalan China, AS, Jepang, Malaysia, India, Brazil, Kanada, Jerman, Perancis, Korea Republik, Vietnam, Belanda, Singapura dan Thailan termasuk Afrika Selatan. (Eka/Ant)</p>