Acara pelatihan untuk pelatih berupa Sosialisasi Empat Pilar Bangsa Indonesia Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Senin, diwarnai kritik sejumlah peserta yang sebagian besar guru Pendidikan Kewarganegaraan dan dosen. <p style="text-align: justify;">Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri II Pontianak, Suryani, mengkritisi rencana pembangunan gedung baru DPR RI yang akan menghabiskan anggaran sekitar Rp1,2 triliun.<br /><br />Menurut dia, gedung tersebut lebih banyak digunakan untuk kepentingan menampung staf ahli masing-masing anggota DPR RI.<br /><br />"Ternyata staf ahli lebih banyak dibanding jumlah anggota DPR RI," kata dia.<br /><br />Ia menambahkan, yang bekerja lebih banyak ternyata staf ahli.<br /><br />"Jadi kami memilih orang yang salah, bukan anggota DPR yang lebih banyak bekerja," kata Suryani dalam acara yang dihadiri Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saefuddin itu.<br /><br />Ia meminta agar anggota legislatif jangan selalu menyalahkan rakyat dalam berbagai hal yang bersifat keributan.<br /><br />"Jangan melihat dari yang rakyat saja salah, mereka mencontoh pejabat," kata Suryani.<br /><br />Ia melanjutkan, sebagai bagian dari lembaga negara, DPR seharusnya paham kenapa saat ini rakyat bersikap seperti itu.<br /><br />"Ini menunjukkan ada ketidakpuasan, Dewan tidak jeli dan cenderung arogan sehingga kerap menyalahkan rakyat," kata Suryani yang alumni Fakultas Hukum Untan itu.<br /><br />Sementara Kasiran, guru Madrasah Tsanawiyah I Pontianak menilai sistem presidensial di Indonesia masih abu-abu.<br /><br />"Tidak ada ketegasan yang nyata," kata dia.<br /><br />Lukman Hakim Saefudin menyambut baik kritik yang dilontarkan para guru tersebut.<br /><br />"Kritik harus bisa ditangkap dengan baik, karena kritik sekeras apapun kepada wakil rakyat merupakan wujud kecintaan mereka," kata Lukman Hakim Saefudin, politisi dari Partai Persatuan Pembangunan itu.<br /><br />Ia berpendapat, kritik itu tidak harus diteruskan secara kelembagaan.<br /><br />"Karena itu merupakan kritik kepada kami sendiri. Dan yang terpenting harus diambil esensinya," kata dia menegaskan.<br /><br />Sosialisasi empat pilar tersebut dilakukan selama empat hari. MPR berharap, para peserta setelah ini bisa menebarkan hal-hal yang diperoleh ke semua pihak.<br /><br />Terlebih lagi, lanjut dia, sebagian besar merupakan guru, dosen, tokoh agama maupun masyarakat.<br /><br />"Pemahaman mengenai empat pilar bangsa semakin menguat karena ada kecenderungan mulai tercerabut dari nilai luhur yang dimiliki bangsa Indonesia," kata Lukman Hakim Saefuddin. <strong>(phs/Ant)</strong></p>











