Indonesia Terbuka Tterhadap Tanaman Bioteknologi

oleh

Pemerintah memberikan sikap positif dan terbuka terhadap tanaman bioteknologi atau rekayasa genetika (Genetically modified organism/GMO) untuk dikembangkan di Indonesia guna memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. <p style="text-align: justify;">Pemerintah memberikan sikap positif dan terbuka terhadap tanaman bioteknologi atau rekayasa genetika (Genetically modified organism/GMO) untuk dikembangkan di Indonesia guna memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.<br /><br />Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Bayu Krisnamurti, di Jakarta, Senin, mengatakan, selama ini Indonesia telah mengimpor produksi pertanian hasil rekayasa genetika tersebut seperti kedelai dan jagung.<br /><br />"Kira-kira 80-90 persen kedelai yang kita impor itu GMO. Beberapa negara sudah menggunakan benih GMO, bahkan Eropa yang selama ini menentang penggunaan GMO tapi beberapa negara sudah memanfaatkan teknologi ini," ujarnya di sela-sela seminar Perspektif Global Tanaman Biotek/Rekayasa Genetika : 2010.<br /><br />Menurut dia, penelitian tanaman GMO yang sudah selesai dilakukan adalah tebu dan jagung, sedangkan untuk padi baru akan dilakukan pada 2013-2014, yakni untuk golden rice.<br /><br />Di Indonesia, tambahnya, sudah diimplementasikan teknolgi rekayasa genetika seperti tebu dan jagung yang dikaitkan dengan hibridanya. <br /><br />"Pemerintah sekarang mengambil posisi yang sangat terbuka tentang kemungkinan penggunaan transgenik untuk pengembangan ini. Karena bisa dikatakan sudah 148 juta hektar di seluruh dunia tahun 2010 yang menanam Genetically modified organisme tersebut," katanya.<br /><br />Bayu mengatakan, Indonesia membutuhkan terobosan teknologi baru, apalagi sejak jaman revolusi hijau seperti penggunaan benih, pupuk dan lainnya selama itu belum ada terobosan teknologi baru dan bioteknologi sepertinya menjanjikan.<br /><br />Seperti halnya negara Argentina, 100 persen pangannya sudah menggunakan teknologi GMO ini.<br /><br />Meskipun pemerintah sangat terbuka dengan teknologi ini, namun Wamentan menyatakan, jangan tergantung pada beberapa perusahaan atau beberapa negara saja.<br /><br />Teknologi ini, tambahnya, sementara ini jika dalam skala besar harus diimpor,sementara yang ada di Indonesia saat ini masih skala kecil.<br /><br />"Ini pilihan yang harus kita buat bagaimana caranya untuk mempercepat itu," katanya.<br /><br />Selain itu juga perlu diperhatikan mengenai keamanan, perlindungan kepada petani maupun terhadap perusahaan yang mengeluarkan benihnya.<br /><br />"Jangan lagi kita mengulangi pengalaman kita dengan adanya pemalsuan bibit. Karena pemalsuan itu merugikan petani dalam produksi dan juga merugikan perusahaan yang mengeluarkan bibit tersebut karena barangnya dipalsukan orang lain," katanya.<br /><br /><br /><br />Satu miliar<br /><br />Sementara Direktur yang juga pendiri International Service For The Acquisition of Agri-Biotech Applicatins (ISAAA) Clive James mengatakan, memasuki tahun ke 15 komersialisasi (1996- 2010) luas lahan penanaman biotek melonjak mencapai 1 miliar hektar di seluruh dunia. <br /><br />"Hal ini menandakan bahwa tanaman biotek diterima oleh petani di seluruh dunia," katanya.<br /><br />Kenaikan ini meningkat 87 kali lipat atau sekitar 148 juta hektar di banding 15 tahun lalu sedangkan jumlah negara yang menanam tanaman biotek melonjak sebanyak 29 negara dari sebelumnya 25 negara.<br /><br />Dari 29 negara yang membudidayakan tanaman biotek pada 2010, tambahnya, 19 diantaranya adalah negara berkembang dan hanya 10 negara yang hanya merupakan negara industri. <br /><br />Ada lima negara berkembang sudah menggunakan tanaman biotek ini di Asia ada dua seperti Cina dan India, dua di Amerika Latin yakni Brazil dan Argentina dan satu di Afrika yaitu Afrika Selatan.<br /><br />Sementara itu 30 negara mengimpor produk tanaman biotek untuk digunakan pangan. (Eka/Ant)</p>