MALINAU, KN – Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Malinau, Yuli Triana, mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kerja sama dalam upaya penanganan dan penurunan stunting di Kabupaten Malinau.
Ajakan tersebut disampaikan Yuli Triana saat menghadiri kegiatan sosialisasi program Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana yang dilaksanakan di Desa Sesua pada Senin (9/3/2026).
Dalam sambutannya, Yuli Triana yang baru dilantik sebagai Kepala Dinas Kesehatan pada 18 Februari 2026 tersebut juga memperkenalkan diri kepada masyarakat serta para pemangku kepentingan yang hadir. Ia sekaligus memohon dukungan dari berbagai pihak, terutama Tim Penggerak PKK yang selama ini aktif terlibat dalam berbagai program kesehatan masyarakat.
Yuli Triana menyampaikan apresiasi kepada Ketua TP PKK Kabupaten Malinau yang telah menginisiasi kegiatan sosialisasi tersebut. Ia menilai kegiatan ini sangat penting, mengingat Desa Sesua merupakan salah satu lokus stunting di wilayah Kecamatan Malinau Barat.
Menurutnya, kegiatan sosialisasi seperti ini memiliki peran strategis untuk memastikan program penanganan dan penurunan stunting dapat berjalan secara efektif dan tepat sasaran.
“Jika anak-anak kita tidak sehat, tentu akan sulit mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas di Kabupaten Malinau. Karena itu kegiatan seperti ini bukan hanya sekadar rutinitas atau pemenuhan administrasi, tetapi harus benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, khususnya Puskesmas, serta kader Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa.
Menurutnya, tenaga kesehatan dan kader posyandu perlu melakukan validasi data balita secara detail dengan sistem by name by address agar tidak ada anak yang mengalami stunting terlewat dari pendataan dan pemantauan.
Selain itu, ia juga meminta para petugas kesehatan untuk lebih aktif turun langsung ke lapangan guna memantau kondisi masyarakat, terutama ibu hamil dan balita yang berisiko mengalami kekurangan gizi.
“Petugas puskesmas dan kader posyandu adalah ujung tombak di lapangan. Karena itu diperlukan keikhlasan dan komitmen untuk lebih sering hadir di tengah masyarakat, memantau kondisi mereka, serta memberikan edukasi yang mudah dipahami,” jelasnya.
Yuli Triana juga menegaskan bahwa edukasi kepada masyarakat harus terus diperkuat, terutama terkait pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, pencegahan kekurangan gizi pada anak, serta pencegahan anemia pada ibu hamil.
Melalui kerja sama dan komitmen bersama antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader posyandu, serta masyarakat, ia berharap upaya penurunan stunting di Kabupaten Malinau dapat berjalan optimal dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan.











