Kalsel Perlu Pasar Induk Beras

oleh

Kalimantan Selatan perlu pasar induk beras guna memudahkan pemantauan dan pengendalian harga beras, kata H Hasmy Fadillah Akbar. <p style="text-align: justify;">"Terlebih Kalimantan Selatan yang sebagian besar penduduknya petani, maka keberadaan pasar induk beras tersebut perlu sekali," kata anggota DPRD Kalsel dari Fraksi Partai Golkar di Banjarmasin, Minggu (05/12/2010).<br /><br />Menurut alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) itu, keberadaan pasar induk beras guna memudahkan pemantauan dan pengendalian harga beras di provinsi yang kini terdiri 13 kabupaten/kota dan berpenduduk sekitar 3,6 juta jiwa tersebut.<br /><br />Selain itu, guna memudahkan pemantauan dan pengendalian persediaan beras dalam kaitan dengan kebutuhan penduduk setempat khususnya serta sebagai penyangga pangan nasional, kata Komisi II bidang ekonomi keuangan DPRD Kalsel itu.<br /><br />Pensiunan Dinas Pertanian Kalsel itu berpendapat, jika pasar induk beras terealisasi di provinsinya, maka lokasi yang agak tepat di wilayah Kota Banjarmasin dan sekitar pinggir sungai besar.<br /><br />"Sungai besar itu yang mudah mengakses sentra-sentra pertanian di Kalsel, seperti Kabupaten Barito Kuala (Batola) dan Kabupaten Banjar, yang merupakan lumbung provinsi tersebut," sarannya.<br /><br />"Pasalnya angkutan hasil produksi pertanian selama ini di Kalsel masih banyak menggunakan transportasi air/sungai dan itu biaya lebih murah dari jalan darat," lanjutnya.<br /><br />Mengenai harga beras lokal Banjar Kalsel yang belakangan terus merangkak naik, wakil rakyat dari Partai Golkar itu, berpendapat, hal tersebut semestinya tak perlu terjadi kalau konsumen dapat menyesuaikan diri.<br /><br />"Tapi oleh karena kebiasaan urang Banjar senang mengonsumsi nasi dari beras lokal, sehingga berapapun harga jual, tetap mereka beli. Sementara persediaan beras lokal terbatas, apalagi produksi padi Kalsel 2010 menurun," demikian Hasmy Fadillah Akbar.<br /><br />Sebelumnya Kepala Dinas Pertanian Kalsel Sriyono mengaku, akibat cuaca ekstrim belakangan ini, membuat produksi padi tahun 2010 di provinsi tersebut mengalami penurunan, karena daerah lebak tak bisa tanam.<br /><br />"Namun penurunan produksi padi Kalsel 2010 tidak terlalu signifikan, diperkirakan cuma sekitar lima persen dari 2009. Oleh sebab itu, masyarakat Kalsel tak perlu khawatir akan kekurangan beras, karena kita masih surplus," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>