Keanekaragaman Hayati Kekuatan Indonesia Hadapi Persaingan Global

oleh

Pakar lingkungan hidup Emil Salim mengatakan, keanekaragaman hayati menjadi kekuatan Indonesia dalam menghadapi persaingan global dengan kebangkitan negara-negara berkembang maupun negara maju. <p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;">Pakar lingkungan hidup Emil Salim mengatakan, keanekaragaman hayati menjadi kekuatan Indonesia dalam menghadapi persaingan global dengan kebangkitan negara-negara berkembang maupun negara maju. <br /> <br /> "Kita menghadapi persaingan abad 21 dengan kebangkitan negara-negara seperti China, India dan Korea. Dalam persaingan ini kekuatan Indonesia pada sumber daya alam hayati yang tidak dimiliki negara lain," kata Emil Salim usai rapat persiapan Indonesia meratifikasi Protokol Nagoya di Jakarta, Senin. <br /> <br /> Indonesia merupakan negara kedua terbesar yang memiliki keanekaragaman hayati setelah Brazil. <br /> <br /> Letak Indonesia yang diapit dua benua dan dua musim, menjadikan Indonesia negara kaya sumber daya alam daratan dan lautan. <br /> <br /> "Kalau kita kuat dalam sumber daya alam hayati daratan dan lautan, sedangkan negara lain tidak memilikinya, maka jika kita menaikkan nilau tambah kita akan unggul dalam persaingan," tambah mantan Menteri Lingkungan Hidup itu. <br /> <br /> Dikatakannya, perhatian dunia saat ini sudah bergeser dari sektor pertambangan dan teknologi genetik menjadi kata kunci sehingga perlu menaikkan nilai tambah sumber daya alam hayati dengan pemanfaatan teknologi. <br /> <br /> Misalnya, pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk obat-obatan memerlukan teknologi sehingga memberi nilai tambah. Penguasaan teknologi menjadi kata kunci dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati tersebut. <br /> <br /> "Kita lakukan ini demi keberlanjutan anak cucu kita supaya hidup tangguh dan mampu bersaing dengan negara lain," ujarnya. <br /> <br /> Pakar lingkungan Setijati Sastrapradja mengungkapkan bahwa kehidupan manusia tergantung pada sumber daya alam hayati yang memiliki kelebihan selalu didapat dan terbarukan. <br /> <br /> "Indonesia mempunyai 365 hari yang disinari matahari dan hujan, air dan matahari menjadi dasar dari keanekaragaman hayati. Untuk itu sebetulnya kalau kita bisa memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk pembangunan nasional, selama matahari masih bersinar dan ada air hujan itu kita hebat," kata guru besar ilmu bitani itu. <br /> <br /> Ia juga sepakat bahwa untuk memanfaatkan dan menaikkan nilai tambah sumber daya alam hayati diperlukan teknologi. Namun diakuinya penguasaan teknologi yang saat ini masih belum optimal . <br /> <br /> Di samping itu, keanekaragaman hayati yang dimiliki Tanah Air juga mengalami ancaman kehilangan dan kelangkaan karena banyak hutan yang hilang. (Eka/Ant) <br /></span></p>