Kelompok tani kelelawar asal Desa Masingai Kecamatan Upau, Tabalong, Kalimantan Selatan mengembangkan pupuk organik sebagai salah satu produk unggul di Bumi Saraba Kawa itu. <p style="text-align: justify;">Salah satu anggota kelompok tani tersebut, Hadi, di Tanjung, Kamis mengatakan pengembangan pupuk organik itu menyusul tingginya kebutuhan pupuk di kalangan petani sementara pasokannya masih minim dan harus beli dari luar daerah.<br /><br />"Pengolahan pupuk organik yang kita lakukan untuk memanfaatkan kotoran sapi yang cukup melimpah dan berharap bisa dikembangkan sehingga bisa menembus pasar luar Tabalong," ujarnya.<br /><br />Saat ini produksi pupuk kandang yang dihasilkan kelompok tani kelelawar mencapai 1 ton per bulan dan digunakan petani lokal untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan hasil pertanian.<br /><br />Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Tabalong, Abdul M Sangaji mengatakan pengembangan pupuk organik khususnya di Kecamatan Upau telah dimasukkan dalam program revitalisasi produk unggulan di Tabalong.<br /><br />"Ada tiga produk unggulan yang akan kita kembangkan yakni bio kopi, lada dan pupuk organik yang saat ini sudah berproduksi namun masih skala kecil," jelas Sangaji.<br /><br />Sangaji mengungkapkan limbah pengolahan karet di Desa Kasiau Kecamatan Murung Pudak bisa jadi bahan tambahan pengolahan pupuk organik, sedangkan pemanfaatan pupuk organik Disperindagkop akan bekerja sama dengan kantor penyuluh pertanian yang telah memiliki demplot tanaman dengan pupuk organik.<br /><br />Sementara itu data di Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan Tabalong, kebutuhan pupuk organik saat ini mencapai 66,6 ton tiap tahunnya.<br /><br />"Kantor penyuluhan pertanian kita telah memiliki demplot pemanfaatan pupuk kandang, sehingga bisa mendukung upaya pengembangan produk pupuk kandang di Upau," tambahnya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>











