Kisah Perjuangan Sjafruddin Prawiranegara Dituangkan Dalam Novel

oleh

Novelis Akmal Nasery Basral menuangkan kisah perjuangan tokoh nasional Sjafruddin Prawiranegara dalam sebuah novel setebal 400 halaman berjudul "Presiden Prawiranegara" yang diluncurkan di Jakarta, Minggu. <p style="text-align: justify;">Novelis Akmal Nasery Basral menuangkan kisah perjuangan tokoh nasional Sjafruddin Prawiranegara dalam sebuah novel setebal 400 halaman berjudul "Presiden Prawiranegara" yang diluncurkan di Jakarta, Minggu.<br /><br />Novel yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan tersebut bercerita tentang gerak langkah Sjafruddin selama 207 hari, saat menjadi Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).<br /><br />Sang penulis berusaha menggali kisah dan peran Sjafruddin selama memimpin PDRI dari catatan sejarah di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) serta wawancara dengan anggota keluarga dan orang-orang yang dekat dengan pria kelahiran Serang tanggal 28 Februari 1911 tersebut.<br /><br />"Saya berusaha seakurat mungkin menampilkan nama tokoh, tanggal dan tempat kejadian, saya berusaha mencari fakta-fakta sejarah tentang Pak Sjaf dari Arsip Nasional dan banyak sekali yang saya dapat," kata Akmal.<br /><br />"Kalau fakta-fakta sejarah itu dijajarkan maka akan jadi buku sejarah. Tapi saya bukan sejarawan, karena itu saya memilih menceritakannya dalam bentuk novel," lanjut dia.<br /><br />Akmal kemudian menampilkan seorang tokoh fiksi bernama Kamil Koto untuk menuturkan kisah Sjafruddin Prawiranegara.<br /><br />"Karena ini novel, saya butuh tokoh lain yang sebenarnya tidak ada dalam catatan sejarah yakni Kamil Koto," kata penulis novel "Sang Pencerah" itu.<br /><br />Dalam buku Akmal, Kamil Koto adalah seorang bekas copet di Pasar Pariaman yang menghabiskan hari-harinya bersama rombongan PDRI yang berpindah dari satu rimba ke rimba lain di Sumatera untuk mempertahankan Republik Indonesia.<br /><br />"Karena dia orang biasa, dia menganggap Pak Sjaf sebagai Presiden karena menurut dia orang yang memimpin negara dengan menteri-menteri dan panglima tinggi adalah Presiden," kata Akmal.<br /><br />Kolumnis, penulis dan aktivis politik Fadli Zon mengapresiasi penulisan novel sejarah tentang Sjafruddin Prawiranegara yang menurut dia seperti memvisualkan babak sejarah bangsa yang terlupakan.<br /><br />Ia mengatakan, peran tokoh Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) itu semasa menjadi Ketua PDRI sangat penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan meski tidak banyak yang mengingatnya.<br /><br />"Dalam PDRI, peran Pak Sjaf tidak bisa diragukan lagi sehingga penunjukkannya sebagai pahlawan nasional seharusnya tidak memerlukan lobi dan tekanan politik," kata dia.<br /><br />Sjafruddin Prawiranegara, yang meninggal dunia pada usia 77 tahun pada 15 Februari 1989, menurut putra putrinya semasa hidup tidak pernah mengharapkan penghargaan, gelar atau pujian atas apa yang sudah dia lakukan untuk Indonesia.<br /><br />Bagi tokoh Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menghabiskan masa tuanya dengan berdakwah itu, kerjanya untuk negara adalah bagian dari ibadahnya kepada Allah SWT.<br /><br />"Menurut ayah, orang yang menjalankan pekerjaannya tidak perlu mengharapkan terimakasih dari siapapun karena itu memang sudah tugasnya. Dan di akhirat nanti semua yang dilakukan selama memegang jabatan harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT," kata Salviyah Prawiranegara, putri Sjafruddin Prawiranegara.(Eka/Ant)</p>