Konida Sintang Tidak Pernah Bersimpang Jalan

oleh

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional (KONI) Daerah Kabupaten Sintang, Sumarsono mengatakan pihaknya selalu berupaya maksimal dalam memajukan olahraga di Sintang termasuk memberikan bonus pada atlet yang berprestasi. <p style="text-align: justify;">“Januari lalu, bupti sendiri yang berkenan hadir menyerahkan bonus kepada yang berhak sekaligus bertatap muka dengan para atlet dan pengurus Pengcab mengenai berbagai saran dan masukan dan dijawab dengan bijak oleh bupati ketika itu,” kata Sumarsono<br /><br />Ia mengatakan itu untuk menanggapi pernyataan yang disampaikan Yeremias Mimin di harian Kapuas Post pada Selasa (8/3) lalu yang menurutnya pernyataan itu tidak beralasan sama sekali.<br /><br />“Setelah saya baca dengan seksama, pernyataan itu hanya pepesan kosong belaka karena bersangkutan tidak paham masalahnya karena kami sudah sangat berupaya untuk mengembangkan olahraga di Sintang ini,” jelasnya.<br /><br />Terkait pernyataan itu juga, ia sudah menghubungi ketua Pengurus Cabang Persatuan Atlet Seluruh Indonesia (PASI) Sintang untuk memperoleh klarifikasi dan ternyata ketua Pengcab mengatakan pernyataan itu tidak benar sama sekali.<br /><br />“Bahkan yang bersangkutan sendiri sudah tidak membela kontingen Sintang pada Porprov 2010 lalu dan mestinya harus introspeksi diri,” katanya.<br /><br />Ia mengatakan Konida Sintang sebagai institusi yang bergerak di bidang olah raga hanya membantu Pemkab Sintang berkolaborasi dengan bagian pemuda dan olahraga dalam upaya memajukan dan mengembangkan olahraga daerah.<br /><br />“Bahkan belum lama ini Bapora Sintang telah memberikan penghargaan kepada para tokoh olahraga dan pelatih yang telah berprestasi mengangkat kemajuan olahraga di Bumi Senetang ini,” ujarnya.<br /><br />Jadi kata dia, tidak ada sifat cuek atau apatis dalam pengembangan olah raga di Sintang ini.<br /><br />“Ini hanya asumsi dia saja yang tidak paham dengan masalah,” jelasnya.<br /><br />Ia menjelaskan, usai perhelatan Porprov Kalbar 2010 yang lalu, pengurus Konida langvsung menghadap bupati melaporkan telah kembali ke sintang dengan memperoleh medali emas 25, perak 43 dan perunggu 60 dan berada pada posisi ke empat dari 14 kabupaten/kota yang ada di Kalbar meskipun dengan dana yang relatif kecil disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.<br /><br />“Kami menghadap juga sekaligus menagih janji bonus seperti yang telahd isampaikan bupati pada saat pelepasan kontingen dan saya rasa ini adalah bukti komitmen dan tanggungjawab kami di Konida sebagai bentuk kepedulian terhadap atlet kita yang telah mengukir berprestasi mengharumkan nama daerah,” imbuhnya.<br /><br />Soal besaran bonus ia mengatakan sepenuhnya adalah kewenangan bupati yang ditetapkan bersama antara eksekutif dan legislatif disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.<br /><br />“Menjelang Porprov juga, Konida telah megucurkan dana kepada setiap cabang olahraga melalui Pengcab masing-masing untuk keperluan latihan bagi atlet yang terpilih.<br /><br />“Konida Sintang tidak pernah meminta kembali sarana latihan atau sarana bertanding,” kata dia.<br /><br />Bahkan ketika berada di Pontianak, pada waktu bertanding, Konida masih tetap membelikan sarana tanding meskipun dengan dana terbatas.<br /><br />“Perlu diketahui kontingen kita dengan dana relatif lebih kecil dari kontingen daerah lain tetapi masih tetap mampu berprestasi, bahkan kita patut angkat topi dengan semangat pantang menyerah, satria, tidak mudah mengeluh dan tidak juga menjadi peniup terompet fitnah,” ujarnya.<br /><br />Ia mengatakan, Konida Sintang tidak pernah tebar pesona memberi janji kepada atlet karena wewenang, hak dan kewajiban untuk memberikan penghargaan, kemudahan fasilitas bagi masa depan atlet melalui sejumlah persyaratan ada ditangan kepala pemerintahan.<br /&gt;<br />“Soal muskab, itu lima tahunan dan yang diundang ketua Pengcab, tidak mungkin mengundang seluruh atlit karena tidak ada relevansinya,” jelasnya.<br /><br />Pengcab adalah perpanjangan tangan Konida untuk menyampaikan pengarahan atau kebijakan kepada para atlet dibawah naungannya karena Konida bersifat kepemimpinan yang hierarkis.<br /><br />“Konida adalah kepemimpinan kolegial, semua kebijakan, masalah, program dimusyawarahkan, tidak ada kepemimpinan diktator, semua mencari penyelesaian terbaik terhadap satu persoalan,” tukasnya.<strong> (phs)</strong></p>