Wakil Ketua DPD RI Laode Ida mengatakan, isu kudeta yang berembus santer belakangan ini hanya merupakan perang urat saraf untuk mengganggu ketentraman berpikir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). <p style="text-align: justify;">Wakil Ketua DPD RI Laode Ida mengatakan, isu kudeta yang berembus santer belakangan ini hanya merupakan perang urat saraf untuk mengganggu ketentraman berpikir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).<br /><br />"Isu kudeta atau penggulingan kekuasaan pemerintah hanya isu pinggiran yang menimbulkan keresahan di kalangan orang-orang sekeliling SBY," kata Laode.<br /><br />Namun, perlu diingat bahwa imajinasi berpikir kudeta tidak muncul sekonyong-konyong, melainkan berlandaskan kekecewaan masyarakat, termasuk dari kalangan purnawirawan militer.<br /><br />"Kalangan purnawirawan militer menilai SBY tidak mampu menunjukkan kinerja seorang figur militer yang ideal. Dia dinilai peragu, tidak tegas dan hanya mengejar popularitas," kata Laode.<br /><br />Tetapi, kekecewaan purnawirawan militer tidak memiliki kekuatan untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah karena sulit menkonsolidasikan kekuatan di kalangan militer aktif.<br /><br />"Tidak ada keretakan dalam institusi militer aktif. Semua masih dikendalikan pucuk pimpinan masing-masing kekuatan yang bertanggungjawab kepada panglima tertinggi yakni Presiden," katanya.<br /><br />Demikian halnya dengan konsolidasi elemen gerakan sosial dari kekuatan rakyat tidak mengkristal sehingga tidak ada alasan kuat untuk menyatakan militer turun tangan mendukung aspirasi rakyat.<br /><br />Ia mengemukakan, sejarah kudeta seperti yang terjadi di Mesir dan sejumlah negara di Timur Tengah bersumber dari gerakan rakyat kemudian ditopang kekuatan militer hingga berakhir dengan runtuhnya kekuasaan.<br /><br />Sedangkan di Indonesia, lanjuynya, tidak ada keretakan dalam institusi militer dan tidak ada konsolidasi gerakan sosial dari kekuatan rakyat yang mengkristal.<br /><br />Selain keadaan dalam negeri, kudeta terhadap pemerintahan yang sah turut dipengaruhi oleh faktor internasional.<br /><br />"Di mata dunia internasional, riak-riak atau isu kudeta pemerintah hanya dipandang sebagai dinamika demokrasi dan Presiden SBY dianggap pintar dan baik," kata Laode.(Eka/Ant)</p>














