Mahasiswa Kalbar Tolak Rencana Kenaikkan Harga BBM

oleh

Puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Kalimantan Barat, Rabu (09/03/2011), melakukan unjuk rasa di depan Kantor Pertamina setempat untuk menolak rencana menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi. <p style="text-align: justify;">"Sampai kapan pun kami tetap menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM," kata Koordinator Aksi Afriyanto Ramadhan dengan lantang saat berdialog dengan pihak Pertamina Wilayah Kalbar. <br /><br />Ia meminta, pemerintah atau pengambil kebijakan tidak menjadikan sektor BBM sebagai alat politik. <br /><br />"Apalagi kami dengar pemerintah akan menurunkan kembali harga BBM menjelang tahun 2014 atau menjelang Pemilu," katanya. <br /><br />Mahasiswa Kalbar, meminta dan mendesak pemerintah tidak menjadikan BBM dan penderitaan rakyat sebagai sarana politik. "Sudah cukup penderitaan rakyat yang saat ini masih banyak hidup serba kekurangan, dan jangan ditambah penderitaan kami dengan tujuan politik," kata Afriyanto. <br /><br />Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta beberapa waktu lalu mengatakan, pemerintah belum memikirkan rencana kenaikan harga BBM bersubsidi sebagai pengganti kebijakan pembatasan pemakaian BBM bersubsidi yang kemungkinan ditunda pelaksanaannya. <br /><br />"Kita belum berpikir untuk menaikkan harga BBM," katanya. <br /><br />Dikatakannya, rencana pemerintah untuk membatasi pemakaian BBM bersubsidi kemungkinan ditunda mengingat tingginya harga minyak dunia saat ini. <br /><br />"Ketika asumsi-asumsi berubah, minyak dunia sudah hampir 120 dolar AS per barel dan inflasi pun masih tinggi, kita melihat itu bisa menimbulkan distorsi yang besar bagi perekonomian. Jadi tidak perlu dipaksakan, kita cari waktu yang tepat," kata Hatta. <br /><br />Sementara dari beberapa sumber menyebutkan pemerintah pusat sedang merumuskan kebijakan pembatasan BBM subsidi yang meminimkan dampak negatif bagi masyarakat. <br /><br />Pemerintah menawarkan tiga opsi yakni membatasi penggunaan BBM subsidi dimulai dari DKI dan Jawa Barat menyusul provinsi lain, melakukan pembatasan secara serentak, dan menaikkan harga premium Rp500,00 per liter. <br /><br />Sementara harga minyak dunia saat ini telah menyentuh 100 dolar AS per barel akibat memanasnya kondisi politik di Timur Tengah. <strong>(phs/Ant)</strong></p>