Masyarakat Jangan Terprovokasi

oleh

Dalam beberapa pekan ini, kompleksitas permasalahan di Kalimantan Barat bertambah. Setelah sebelumnya masalah kapal tenggelam yang kemudian diikuti kelangkaan BBM, kini yang baru adalah isu penculikan dengan modus mengambil organ dalam korbannya. <p style="text-align: justify;"><br />Isu yang tak jelas kebenarannya tersebut menyebar melalui SMS dimasyarakat, tak pelak lagi langsung mendapat responsive yang luar biasa dampaknya dimasyarakat. Mulai dari anak SD hingga Ibu Rumah Tangga tak henti membicarakan SMS tersebut. Ragam ceritapun berkembang menjadi-jadi bak cerita bersambung dengan berbagai versi tapi intinya sama.<br /><br />Masyarakat-pun dibuat galau dan takut untuk beraktifitas khususnya yang ada di kampong-kampung serta pedalaman. AWAS ADA PENCULIK (bukan SULE) atau JANGAN BICARA DENGAN ORANG ASING, APALAGI BERKENALAN, dan lain sebagainya yang disampaikan masyarakat kepada anggota keluarganya sebagai nasehat kewaspadaan. Sikap waspada alias siaga I-pun dikumandangkan. Walhasil yang ada adalah munculnya paranoid serta kecurigaan kepada orang yang tidak dikenal disekitar wilayahnya.<br /><br />Minggu, (06/03/2011) dua orang yang adalah pedagang kelontongan meregang nyawa di Meliau-Sanggau akibat paranoid dari masyarakat yang sudah terprovokasi isyu SMS tersebut.<br /><br />Senin malam (07/03/2011) Polres Sintang mengerahkan peleton Dalmas guna mengantisipasi situasi di wilayah Tempunak, karena ratusan masyarakat dengan senjata tajam dan tombak melakukan sweeping disekitar Polsek Tempunak, yang oleh masyarakat ditengarai telah melihat pelaku penculikan melarikan diri ke belakang Polsek.<br /><br />Sungguh ironis. Padahal masyarakat sering mengucapkan jangan mudah terprovokasi atau menjadi provokator. Tapi mengapa justru saat ini berbanding terbalik. <br /><br />Berkaca pada berbagai peristiwa di tanah air, yang muaranya adalah isyu-provokasi-provokator dan masyarakat yang sebagai terprovokasi, seharusnya dapat menjadi imun bagi masyarakat itu sendiri. Artinya masyarakat sudah dapat meng-<em><strong>f</strong><strong>end off attack</strong></em> terhadap informasi yang tak jelas kebenarannya dan bukan justru hanyut dalam permainan peng-isyu-nya. Yang terjadi saat ini adalah masyarakat tidak lagi menelaah permasalahan melainkan langsung menelannya bulat-bulat.<br /><br />Isyu SMS yang terjadi di Kalimantan Barat ini juga melanda provinsi tetangga Kalimantan Tengah. Isu kayau atau potong kepala di sekitar Kotawaringin Barat (Kobar), Sukamara dan Lamandau. Namun warga mulai meyakini, bahwa rumor yang disebar via SMS itu hanya ulah oknum yang tak bertanggung jawab dan pasti diragukan kebenarannya, meskipun masih menyisahkan kecemasan atas isyu tersebut<br /><br />Dalam konteks ini, yang diperlukan adalah adanya komunikasi yang lebih intensif untuk pencegahan apabila ada isu yang dapat membuat konsentrasi masa terganggu. Tentunya komunikasi tersebut adalah antar masyarakat itu sendiri, juga dengan tokoh,  masyarakat, agama, aparatur pemerintahan serta aparat keamanan. Komunikasi antar penjuru ini akan lebih effektif jika dibandingkan sebatas himbauan yang dibuat untuk satu pihak saja yakni masyarakat.<br /><br />Masyarakat hendaknya jangan mudah terpancing oleh isu-isu yang kebenarannya dipertanyakan. Aparat keamanan hendaknya lebih cepat bertindak dan melakukan pencegahan ketika ada isu di tengah masyarakat yang dapat memicu konflik.<br /><br />Namun semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Tindakan pemerintah tidak akan berarti kalau tidak ada kesadaran pada diri pribadi masing-masing. <strong>(*)</strong></p>