Menkes Tinjau Puskesmas Layani Kanker Serviks

oleh

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningih baru-baru ini meninjau Puskesmas Tabanan 3 Bali, yang telah terkenal di kalangan masyarakat karena aktif memberantas kanker serviks melalui program deteksi dini. <p style="text-align: justify;">Dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin (21/03/2011), disebutkan bahwa kunjungan itu dilaksanakan karena Puskesmas Tabanan 3 Bali ini aktif melaksanakan deteksi dini dengan IVA yaitu inspeksi visual dengan asam asetat dan krioterapi yang dilakukan jika ditemukan lesi pra kanker secara reguler kepada warga Tabanan.<br /><br />Penyediaan layanan pencegahan kanker serviks di puskesmas-puskesmas Bali diharapkan dapat lebih memacu daerah lain dalam melakukan hal yang sama.<br /><br />Ketika melakukan kunjungan itu, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan program pengendalian kanker serviks di Indonesia ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) dan meningkatkan kualitas kehidupan pasien kanker.<br /><br />Program pengendalian kanker di Indonesia berfokus pada deteksi kanker serviks dan kanker payudara, yang dimulai sejak tahun 2007. Deteksi yang dilakukan untuk kanker serviks adalah dengan IVA.<br /><br />Berdasarkan data statistik rumah sakit 2008, terlihat bahwa kanker serviks merupakan kanker kedua terbanyak di semua rumah sakit di Tanah Air (10,3 persen ), setelah kanker payudara (18,3 persen). <br /><br />Puskesmas 3 Tabanan sudah memberikan pelayanan IVA secara mandiri sejak tahun 2009. Pelayanan IVA dan krioterapi ini diberikan setiap hari Sabtu, dan setiap minggunya melayani 10-15 perempuan yang datang memeriksakan diri ke klinik IVA. <br /><br /><br /><strong>Penyuluhan</strong><br /><br />Selama ini, Puskesmas tersebut sudah pernah menemukan kasus kanker serviks yang kemudian dirujuk ke RSU Tabanan. Puskesmas Tabanan 3 juga sudah melakukan penyuluhan tentang pencegahan kanker serviks ke sekolah-sekolah, banjar-banjar dan instansi/kantor. <br /><br />Dalam kunjungannya ke puskesmas tersebut, Menteri Kesehatan didampingi oleh Prof Dr dr Ketut Suwiyoga, Sp.OG (K), Kepala Bagian Obsteri Ginekologi FK Universitas Udayana dan Dr dr Laila Nuranna Sp.OG (K), dari FK Universitas Indonesia, keduanya mewakili Panitia AOGIN Interim Meeting Bali.<br /><br />Di Puskesmas tersebut, Menteri diterima oleh Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, Kadinkes Tabanan dr I Ketut Sumiarta M.Kes, Kepala Puskesmas dr Ni Luh Gede Sukardiasih M.For dan Ketua YKI Tabanan Ny Komangsanjaya.<br /><br />Prof Ketut Suwiyoga, Sp OG (K) yang juga merupakan koordinator pelatihan FCP "See & Treat" (lihat dan lindungi) MFS daerah Bali menjelaskan, di Bali terdapat 114 puskesmas di delapan kabupaten dan satu kodya yang kesemuanya telah melakukan pelatihan program "See & Treat dan sudah menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih untuk memberikan layanan pencegahan kanker serviks kepada masyarakat. <br /><br />Namun kesiapan SDM ini masih harus dilengkapi oleh fasilitas peralatan krioterapi yang mencukupi jumlahnya. Saat ini di 114 puskesmas di Bali hanya memiliki 38 alat krioterapi. Tanpa alat krioterapi, program "See & Treat" akan terhambat.<br /><br />Kegiatan pencegahan kanker serviks juga telah pula dilakukan oleh beberapa daerah, seperti Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Karawang, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin, Pontianak, Manado dan Makasar. <br /><br />Menkes berada di Bali dalam rangka pelaksanaan pertemuan ilmiah yang diselenggarakan AOGIN atau Asia-Oceania Research Organization in Genital Infection and Neoplasia, merupakan organisasi internasional yang memiliki visi untuk mengurangi angka kejadian akibat infeksi oleh Human Papilomavirus (HPV) pada sistem reproduksi wanita.<br /><br />AOGIN beranggotakan klinisi dan ilmuwan dan bekerja sama dalam bentuk kerja sama dan riset, pertukaran ilmiah, pendidikan dan pelatihan, penyediaan informasi, survei dan audit.<br /><br />AOGIN yang beranggotakan 16 negara Asia Oceania dan Pasifik memiliki misi untuk bekerja sama dengan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, penyedia layanan kesehatan dan masyarakat dalam mengurangi beban penyakit karena HPV.<br /><br />Kanker serviks merupakan kanker yang jumlah penderitanya kedua terbanyak di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Menurut WHO, setiap tahunnya di dunia terdapat 500.000 kasus baru kanker serviks, yang separuhnya, yaitu 250.000, berakhir dengan kematian dan hampir 80% kasus terjadi di negara berpendapatan rendah. <br /><br />Di Indonesia, lebih dari 70 persen kasus kanker serviks ditemukan saat sudah stadium lanjut , dengan angka kejadian setiap satu jam seorang perempuan meninggal karena kanker serviks.<br /><br />Kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV), memiliki angka kejadian dan kematian yang cukup tinggi, namun penyakit ini dapat dicegah, dengan promosi yang terus- menerus, vaksinasi HPV dan dengan melakukan deteksi dini antara lain Pap smear dan IVA. <strong>(phs/Ant)</strong></p>