Mimika Pengguna Obat Malaria Tertinggi Di Papua

oleh

Kabupaten Mimika merupakan pengguna tertinggi obat Dehidro Artemisinin Pepraquin (DHP) atau Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) untuk mengobati pasien penyakit malaria di kawasan Papua. <p style="text-align: justify;">Kabupaten Mimika merupakan pengguna tertinggi obat Dehidro Artemisinin Pepraquin (DHP) atau Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) untuk mengobati pasien penyakit malaria di kawasan Papua.<br /><br />Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Mimika, Saiful Taqin di Timika, Rabu, mengatakan, kebutuhan obat DHP/ACT di Mimika setahun mencapai 50 ribu kure (satu kure berisi delapan tablet).<br /><br />"Untuk kebutuhan RSUD dan 13 Puskesmas saja dalam setahun sekitar 30 ribu kure. Belum lagi Malaria Control (Malcon) PT Freeport Indonesia dan Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) bisa mencapai lebih dari 50 ribu kure per tahun," jelas Saiful.<br /><br />Menurut Saiful, penggunaan obat DHP/ACT untuk pengobatan penyakit malaria di Mimika dilakukan sejak Maret 2006 dan hingga kini sudah mencakup seluruh Puskesmas setempat maupun di RSUD, RSMM, RS AEA Tembagapura dan sejumlah Klinik Malcon PT Freeport Indonesia untuk menggantikan obat cloroquin yang sudah resisten.<br /><br />Ia mengatakan, agar Mimika bisa melakukan eliminasi kasus malaria maka sangat dibutuhkan keterlibatan semua komponen tidak saja pemerintah tetapi juga pihak swasta, LSM dan masyarakat di lapisan bawah.<br /><br />Menurut Saiful, kasus penyakit malaria di Mimika hingga kini masih menjadi momok bagi warga setempat.<br /><br />Tahun 2010, jumlah kasus malaria di Mimika sesuai laporan dari semua rumah sakit dan Puskesmas setempat mencapai 80 ribu kasus atau hampir mencapai sepertiga dari jumlah penduduk setempat yang mencapai 212 ribu jiwa.<br /><br />"Angka API (awal parasit insiden) kita masih sangat tinggi yaitu 328 artinya dari 1.000 orang yang diperiksa terdapat 328 orang yang positif malaria," jelas Saiful.<br /><br />Ia menyambut baik penyusunan rencana strategi (renstra) penanggulangan malaria di Mimika dari tahun 2011-2026 sebagai upaya terencana dan tersistematis menuju Mimika yang bebas dari kasus malaria yang ditargetkan pada tahun 2026.<br /><br />Sesuai data dari Dinkes Mimika, jumlah kematian akibat kasus malaria di Mimika cukup tinggi. Tahun 2007 dari 3.125 pasien malaria yang berobat di rumah sakit, 26 diantaranya meninggal dunia. Untuk tahun 2010, dari 1.768 pasien malaria yang dirawat di rumah sakit, 16 orang di antaranya meninggal dunia.<br /><br />Sementara ibu hamil yang positif terserang malaria di Mimika mencapai 18 persen.<br /><br />Dr Eni Kelangalem dari Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua yang membidangi program penelitian malaria di Timika mengatakan, kasus malaria tertinggi di Timika didominasi malaria plasmodium falcipharum (malaria tropika) dibanding malaria plasmodium vivax dan lainnya.<br /><br />Menurut Eny yang menggeluti penelitian malaria di SP9 dan SP12 Distrik Kuala Kencana sejak tahun 2004 itu, kasus anemia berat juga sering terjadi pada penderita malaria di Timika, namun sejak menggunakan obat DHP/ACT maka terjadi kenaikan haemoglobin pada pasien malaria dari rata-rata HB 7 meningkat menjadi HB 9.(Eka/Ant)</p>