Nilai Kain Tenun NTB Bisa Di Tingkatkan

oleh

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah, Kementerian Perindustrian, Euis Saidah, mengatakan nilai ekonomi kain tenun di Nusa Tenggara Barat, masih bisa ditingkatkan melalui pengembangan penggunaanya. <p style="text-align: justify;">Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah, Kementerian Perindustrian, Euis Saidah, mengatakan nilai ekonomi kain tenun di Nusa Tenggara Barat, masih bisa ditingkatkan melalui pengembangan penggunaanya.<br /><br />"Industri kreatif, di Nusa Tenggara Barat (NTB) sangat potensial, seperti kerajinan gerabah. Demikian juga dengan kain tenunnya. Khusus untuk kain tenun masih bisa dikembangkan tidak hanya dalam untuk "fashion" tetapi bisa menjadi tas, sepatu dan dompet, sehingga bernilai ekonomis tinggi," katanya di Mataram, Jumat.<br /><br />Penilaian tersebut dilontarkannya setelah meninjau sentra produksi kain tenun di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur, serta sentra kerajinan gerabah di Desa Banyumulek, Lombok Barat.<br /><br />Kegiatan kunjungan ke sejumlah sentra produksi kerajinan tersebut sebagai salah satu rangkaian kegiatan rapat koordinasi nasional penyusunan program kegiatan pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) pada 2012 di Mataram.<br /><br />Euis mengatakan, pengembangan kain tenun menjadi sebuah produk bernilai ekonomi tinggi telah dilakukan pelaku IKM di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Pelaku IKM di wilayah itu memanfaatkan kain tenun sebagai bahan baku tas, dompet dan aksesoris lainnya.<br /><br />"Kain tenun yang dipakai untuk membuat dompet panjangnya sekitar 40 centimeter, tapi harga jualnya mencapai Rp200 ribu. Berati kan nilai tambah kain tenun itu tinggi sekali. Dan NTB berpotensi untuk itu," ujarnya.<br /><br />Menurut dia, pengembangan kreativitas para pelaku IKM merupakan salah satu dari pilar pembangunan IKM selain melalui program "One product one village" (Ovop), pengembangan kewirausahaan dan pengembangan "cluster" IKM.<br /><br />Pengembangan kreativitas para pelaku IKM juga bertujuan agar tercipta sebuah produk yang khas di tiap-tiap daerah, sehingga mampu bersaing dengan produk dari luar.<br /><br />Jika 33 provinsi di Indonesia, memiliki "branding" dalam hal produk IKM yang dihasilkan, kata dia, akan memudahkan upaya untuk menerapkan sistem perbintangan terhadap produk-produk IKM di masing-masing daerah.<br /><br />Produk IKM yang masuk klasifikasi bintang lima merupakan produk yang bisa dijual di pasar dunia, sedangkan produk IKM kategori bintang empat adalkah yang belum bisa diekspor dan hanya bisa dipasarkan di dalam negeri.<br /><br />"Demikian juga dengan produk IKM kategori bintang tiga dipasarkan di tingkat lokal, sedangkan produk IKM bintang dua dan tiga masih perlu mendapatkan perbaikan kualitas. Tentunya itu dilakukan oleh pemerintah daerah," ujarnya.<br /><br />Rapat koordinasi nasional penyusunan program kegiatan pengembangan IKM itu diikuti 125 peserta terdiri pejabat eselon II dan III dari Kemenperin, pejabat eselon II dan III dari 23 provinsi, pejabat eselon II dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten/kota yang membidangi masalah IKM.(Eka/Ant)</p>