Penjarahan yang dilakukan warga masyarakat membuat sebagian besar anggrek Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan (Kalsel) kini sulit ditemukan. <p style="text-align: justify;">Camat Loksado Rubingan di Banjarmasin, Rabu (22/12/2010), mengatakan, beberapa anggrek khas pegunungan Meratus seperti anggrek tebu maupun anggrek hitam kini sulit ditemukan. <br /><br />Hal tersebut terjadi, kata dia, karena beberapa tahun lalu banyak warga berburu anggrek khas tersebut untuk dijual dengan harga cukup tinggi bahkan mencapai jutaan. <br /><br />Perburuan secara besar-besaran tersebut, kata dia, membuat beberapa jenis anggrek menjadi hilang sebelum sempat dibudidayakan. <br /><br />Parahnya, kata Rubingan, budidaya anggrek yang dilakukan di pinggiran sungai Loksado menjadi sia-sia karena habis disapu bersih oleh banjir yang melanda daerah wisata tersebut beberapa waktu lalu. <br /><br />Mengatasi agar penjarahan tersebut tidak terus berlangsung, Wali Kepala Adat Loksado, Kapau mengatakan pihaknya kini telah menerapkan denda adat kepada setiap penjarah. <br /><br />Nilai dendanya, kata dia, beragam disesuaikan dengan harga anggrek yang dijual mulai dari Rp50 ribu hingga jutaan rupiah. <br /><br />Selain itu, kata dia, berbagai penyuluhan tentang pentingnya menjaga kekayaan alam baik itu anggrek maupun hutan juga terus dilakukan oleh pemerintah kecamatan maupun kabupaten. <br /><br />"Melalui penyuluhan itu masyarakat kini sadar bahwa kekayaan alam tersebut harus dijaga dengan baik bila tidak ingin beralih tangan ke daerah lain bahkan negara lain," katanya. <br /><br />Menyelamatkan kekayaan alam tersebut, Komunitas Jurnalis Pena Hijau Kalsel melakukan kegiatan mengembalikan anggrek Loksado ke habitatnya. <br /><br />Tidak kurang dari 20 anggota Pena Hijau melakukan penanaman ratusan anggrek di pohon-pohon disepanjang pinggiran sungai Loksado. <br /><br />Ketua Jurnalis Pena Hijau Deny Susanto mengatakan, pihaknya membeli ratusan anggrek dengan berbagai jenis dari para penghobis anggrek di Banjarmasin. <br /><br />Anggrek-anggrek tersebut, kata dia, kemudian dibagikan ke masyarakat Loksado dan sebagian ditanam sendiri oleh anggota Pena Hijau di daerah itu. <br /><br />Kegiatan yang didukung Pemprov Kalsel dan Bank Kalsel tersebut, kata dia, bukan hanya melakukan penanaman anggrek tetapi juga memberikan sumbangan sembako kepada masyarakat Loksado yang terkena banjir. <strong>(phs/Ant)</strong></p>


















