Peremajaan Tanaman Kopi Nasional Mendesak

oleh

Peremajaan tanaman kopi di Indonesia dinilai sudah sangat mendesak karena sekitar 60 persen dari areal komoditas itu yang seluas 1,3 juta hektare merupakan tanaman tua. <p style="text-align: justify;">Peremajaan tanaman kopi di Indonesia dinilai sudah sangat mendesak karena sekitar 60 persen dari areal komoditas itu yang seluas 1,3 juta hektare merupakan tanaman tua.<br /><br />"Akibat tanaman tua, produksinya rendah. Harus ada peremajaan segera agar peluang ekspor tidak hilang di masa yang akan datang," kata Ketua Umum Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Suyanto Husein, di Medan, Minggu.<br /><br />Suyanto berada di Medan sejak Sabtu (19/3) mengikuti Rapat Umum Anggota (RUA) AEKI Sumut ke VIII. <br /><br />Terpilih sebagai Ketua AEKI Sumut 2011-2016 adalah Andryanus Simarmata, eksekutif PT Sarimakmur Tunggal Mandiri menggantikan Suyanto Hussein yang sebelumnya terpilih sebagai Ketua Umum AEKI.<br /><br />Di Sumut, misalnya, tanaman kopi arabika rata-rata sudah berumur di atas 10-25 tahun, sehingga produksinya tidak maksimal.<br /><br />Akibat tanaman tua, produksi kopi Indonesia rata=rata masih sebesar 650-750 kilogram per hektare atau jauh di bawah produksi Vietnam yang sudah mencapai 2-2,5 ton per hektare.<br /><br />Kondisi itu sangat disayangkan mengingat Vietnam belajar bertanam kopi dari Indonesia.<br /><br />"Agar tidak `tergilas` Vietnam, peremajaan tanaman kopi harus segera dilakukan khususnya dengan bibit unggul dan jenis speciality." katanya.<br /><br />Peremajaan dengan bibit unggul, menurut dia, diperlukan untuk mengantispasi terganggunya penambahan luas areal di berbagai daerah sentra menyusul meningkatnya keinginan petani untuk bertanam komoditas lain seperti sawit.<br /><br />Menurut dia, Kopi masih menjadi komoditas ekspor yang menjanjikan karena tren minum kopi di berbagai negara terus meningkat termasuk di China yang biasanya dikenal sebagai peminum teh.<br /><br />Suyanto mengakui, tahun ini, volume ekspor kopi nasional diperkirakan tidak jauh beda dengan tahun lalu yang berkisar 350 ribu -400 ribu ton dari produksi yang juga di kisaran 600 ribuan ton.<br /><br />Prakiraan stabilnya ekspor karena produksi yang diduga turun lagi akibat faktor cuaca.(Eka/Ant)</p>