Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak para pejabat negara untuk mengubah pola pikir penggunaan anggaran menjadi berbasis hasil. <p style="text-align: justify;">Dalam pidatonya pada penyerahan Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2011 kepada para menteri, pimpinan lembaga negara serta para gubernur seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/12/2010), Presiden meminta agar anggaran dimanfaatkan secara lebih inovatif, kreatif, dan penuh inisiatif sehingga mampu mencapai target kinerja dengan penggunaan anggaran sehemat mungkin. <br /><br />"Mari kita ubah pola pikir, "mindset" pelaksanaan anggaran dari input base menjadi output dan outcome base. Hentikan pengelolaan anggaran berpola "business as usual"," imbaunya. <br /><br />Kepala Negara meminta agar dilakukan penghematan terhadap kegiatan perjalanan dinas, penyelenggaraan rapat, dan kegiatan operasional serta nonoperasional lain yang memungkinkan. <br /><br />"Saya melihat masih banyak yang boros. Kalau ada fasilitas negara bisa digunakan, gunakanlah. Saya melihat masih ada rapat yang bisa digunakan di gedung pemerintah tetapi menggunakan hotel. Hotelnya bukan di Jakarta lagi, padahal orangnya dari Jakarta semua," tutur Presiden. <br /><br />Kepala Negara juga meminta agar pada kegiatan yang dibiayai dana pinjaman luar negeri bisa ditingkatkan efisiensinya dan dicegah pemborosan anggaran. <br /><br />Selain itu, menurut Presiden, harus dipastikan tidak ada dana yang terlalu lama mengendap dan tidak dipergunakan karena hal itu memperbesar biaya penyediaan yang harus dikeluarkan. <br /><br />Dengan penerapan anggaran berbasis kinerja pada 2011, Presiden berharap kementerian dan lembaga negara bisa menitikberatkan kesesuaian antara input dan ouput dalam pelaksanaan program dan kegiatan dengan visi dan misi masing-masing kementerian dan lembaga. <br /><br />"Penerapan penganggara berbasis kinerja ini memberikan konsekuensi bahwa setiap pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran harus mempertanggungjawabkan anggaran yang digunakannya sesuai indikator kinerja yang terukur dan disepakati," tuturnya. <br /><br />Pengguna pagu anggaran tertinggi untuk DIPA Tahun Anggaran 2011 adalah Kementerian Pekerjaan Umum, diikuti oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Pertahanan. <br /><br />Sedangkan pengguna anggaran dengan satuan kerja terbanyak adalah kementerian Agama yang diikuti oleh Kementerian Pertahanan dan Mahkamah Agung. <br /><br />APBN 2011 secara garis besar terdiri atas Pendapatan Negara dan Hibah sebesar Rp1.104,9 triliun atau meningkat sebesar 11,3 persen dari tahun sebelumnya. <br /><br />Anggaran Belanja Negara dialokasikan sebesar Rp1.229,6 triliun atau meningkat sebesar 9,2 persen dari tahun anggaran sebelumnya dengan defisit anggaran diproyeksikan sebesar Rp124,66 triliun atau 1,8 persen dari Produk Domestik Bruto. <br /><br />Dari sisi pendapatan, penerimaan perpajakan diharapkan dapat menyumbang sebesar Rp850,3 triliun atau 77 persen dari total Pendapatan Negara dan Hibah. <br /><br />Dengan jumlah sebesar itu, rasio perpajakan terhadap PDB (tax ratio) tahun depan diperkirakan sebesar 12,1 persen. <br /><br />Jumlah itu telah memperhitungkan dialihkannya Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) ke daerah mulai tahun 2011, dan juga rencana pengalihan PBB menjadi pajak daerah bagi daerah yang sudah siap melaksanakannya paling lambat mulai tahun 2014. <br /><br />Ada pun sumber pendapatan negara lainnya yang diharapkan dapat menopang APBN 2011 adalah Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp250,9 triliun dan Penerimaan Hibah sebesar Rp3,7 triliun. <br /><br />Dari keseluruhan Anggaran Belanja Negara sebesar Rp1.229,6 triliun, sebesar Rp432,8 triliun dialokasikan untuk membiayai belanja kementerian/lembaga, Rp403.8 triliun untuk belanja non-K/L termasuk subsidi, bunga utang dan belanja lain-lain serta sebesar Rp392,98 triliun untuk transfer ke daerah. <strong>(phs/Ant)</strong></p>


















