Renungan Akhir Tahun ( Mengetuk Pintu 2011)

Kita akan beranjak meninggalkan waktu. 2011 telah menanti dengan hamparan asa-asa yang bertumpuk. Negeri adalah sumber janji, di dalamnya telah terikat sebua cita, cinta dan persatuan. <p style="text-align: justify;">Konon orang-orang pendahulu kita adalah petarung, Jiwa mereka seperti budak yang bebas dari majikan yang kerap menjadikanya tenaga-tenaga rodi, negeri ini zaman dulu telah terjajah dalam kelam.<br /><br />Tahun 2010, kita kembali gagal memenuhi janji. Seolah-olah kita secara berulang-ulang menelan pil pahit akan berbagai janji: supremasi hukum, pemberantasan korupsi, lapangan kerja. Semuanya itu perlahan membuat kita tak pernah tersentak untuk mengingatnya, kita semua telah belajar terbiasa, beradaptasi dengan mafia hukum, bencana alam, parade politisi di panggung politik tak henti-hentinya memberikan kisah-kisah menarik, mengoyak emosi kita agar menikmatinya ibarat sinetron berseri, ceritanya berputar dan bisa ditebak.<br /><br />Kasus Century telah menyita banyak waktu, membuat kita lupa untuk bekerja sebaik-baiknya. Kita gemar sekali bertengkar dan memainkan peran di sebuah panggung pertunjukkan politik, Yang semuanya secara signifikan tak memberi nafas baru kepada para petani yang harga gabahnya turun, Anak-anak kita yang ingin sekolah, pengangguran yang sabang hari menambah daftar populasi yang tertindas.<br /><br />Setelah Century, Muncul kasus Gayus Tambunan. Mafia Pajak yang luar biasa memakan uang rakyat, membuat semua perangkat hukum kehilangan wibawa, adakah sampai hari ini harapan akan sebuah kepastian  hukum yang diharapkan? Kembali kisah ini akan mengalir seperti judul baru dalam sinetron, dinikmati, di tonton dan dilupakan . Amnesia politik adalah penyakit yang endemik pada semua kalangan.<br /><br />Korupsi sistemik telah membuat sistem birokrasi begitu tercemar. Era reformasi sebagai ujung tombak keterbukaan telah memudarkan hakikat reformasi yang sebenarnya.<br /><br />Sumber daya alam yang melimpah adalah sebuah potensi yang seyogyanya adalah hak milik rakyat Indonesia. Liberalisasi swasta yang berlebihan termasuk investor asing telah kebablasan dalam memberi hak kepemilikan dan monopoli usaha. Kapitalisasi ini adalah upaya yang akan berdampak pada semakin melebarnya kesenjangan antara si miskin dan si kaya, perselingkuhan politisi dan pengusaha benar-benar telah membuat pemberdayaan masyarakat terbengkalai. mungkin inilah sebabnya dari kalangan tertentu banyak yang pesimis dengan Indonesia berapa puluh tahun yang akan datang, Indonesia tak akan bisa menjadi negara maju jika sistem pemerintahn yang dibangun tidak bersih, tegas, dan birokrasi yang profesional.<br /><br />Di akhir tahun 2010, kita telah disuguhi tontonan 11 anak muda di lapangan hijau pada perebutan Piala AFF tanggal 29/12/10. Seperti itulah seharusnya para petinggi negeri bekerja, Keras dan disiplin.<br /><br />Peranan Media Massa, baik cetak dan Elektronik sebagai media komunikasi massa merupakan variabel yang efektif untuk mencerdaskan Indonesia kita, demokrasi kita, hukum kita. Jika media Massa sampai hari ini masih bergantung pada trend Rating dan materi maka akan menghilangkan kekuatan  dorongan menuju kesejahteraan, pencerdasan dan kritik sosial.<br /><br />Media Massa alternatif, yang terlepas dari aroma politikus perlu dipikirkan, Mahasiswa mesti melakukan rekonstruksi peran, peningkatan kapasitas Intelektual, emosional, dan sipritual dan tekad yang bulat untuk menghapus sejarah buram anarki mahasiswa yang destruktif adalah hal yang perlu di diskusikan, direncanakan secara terukur oleh mereka , mahasiswa Indonesia.<br /><br />Teori dan praktek konflik yang kerap dimainkan oleh aktor-aktor yang haus kekuasaan adalah sejarah yang masih mengisi sepanjang tahun 2010. Pemilukada di berbagai daerah adalah sebuah ritual yang paling sering memantik gesekan sosial, benturan horisontal di berbagai daeraj bukanlah tanpa sebab, tak ada teks yang bebas kepentingan.<br /><br />Sepanjang tahun 2010, Pendidikan dan kesehatan sebagai hak dasar rakyat, dijual secara licik oleh para politisi di kampanye-kampanye mereka. Bagaimana mungkin mereka memperjuangkan sesuatu yang pada dasarnya adalah hak dasar rakyat? bukankah sesuatu yang aneh kemudian ketika seorang calon gubernur memberikan janji pendidikan dan kesehatan gratis? <br /><br />Sementara hal itu sudah menjadi tugas mereka untuk memperjuangkan hak-hak dasar itu? Tahun 2010 adalah 12 bulan yang telah berlalu begitu saja, kita rindu akan sebuah supremasi hukum, kita rindu akan sebuah <br />pemerintahan yang bersih, kita rindu para koruptor di tangkap dan disita harta kekayaan hasil korupsinya, Kita rindu kasus-kasus pelanggaran HAM terkuak,kita rindu pemilu yang murah dan demokratis, kita rindu demonstrasi mahasiswa yang militan dan elegan, kita rindu anak-anak kita sekolah?</p> <p style="text-align: justify;">Akankah semua itu terpenuhi di tahun 2011? Semoga!For auld lang syne, my dear, for auld lang syne, we’ll take a cup o’ kindness yet, for auld lang syne.</p>