Tim Pakem Banjarbaru Awasi Aliran Kepercayaan

oleh

Tim pengawas aliran kepercayaan masyarakat (Pakem) Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan terus melakukan pantauan terhadap aliran kepercayaan yang ada di kota itu. <p style="text-align: justify;">"Kami terus melakukan pantauan aliran kepercayaan yang ada di masyarakat sehingga jika muncul gejolak bisa langsung diantisipasi," ujar Wakil Ketua Tim Pakem Banjarbaru, Aditya, Kamis (24/03/2011).<br /><br />Ia mengatakan, tim Pakem terdiri atas Kejaksaan Negeri Banjarbaru, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Polres, Kodim, Kementerian Agama dan unsur Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarbaru yang diwakili Dinas Pendidikan dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). <br /><br />Menurut Kasi Intel Kejari Banjarbaru, pihaknya menggunakan metode intelijen dalam mengawasi aliran kepercayaan sehingga mengetahui sejauh mana perkembangan dan potensi konflik di tengah lingkungan masyarakat.<br /><br />"Pengawasan tidak dilakukan secara terbuka tetapi tertutup menggunakan metode intelijen sehingga kami mengetahui sejauh mana perkembangan dan potensi konflik terkait keberadaan aliran kepercayaan itu," ungkapnya.<br /><br />Hanya saja, kata dia, pihaknya tidak bisa menyebutkan secara terbuka mengenai aliran kepercayaan yang ada dan berkembang di Kota Banjarbaru karena sejauh ini keberadaannya tidak meresahkan masyarakat.<br /><br />"Ada dua aliran kepercayaan yang berkembang di Banjarbaru tetapi mengingat aktivitasnya tidak menimbulkan keresahan dan mengganggu ketertiban umum sehingga langkah yang dilakukan hanya mengawasinya," ujar dia.<br /><br />Dikatakan, beberapa waktu lalu tim pakem menerima informasi adanya sejumlah pengikut aliran Ahmadiyah yang berdomisili di Kecamatan Cempaka tetapi setelah diselidiki ternyata informasi itu tidak benar.<br /><br />"Intinya, setiap informasi mengenai keberadaan aliran kepercayaan kami tindaklanjuti karena seluruh pihak tidak menginginkan terjadinya gesekan dan konflik akibat perbedaan kepercayaan," katanya.<br /><br />Salah seorang warga Banjarbaru, Said Abdullah mengatakan, tumbuh suburnya aliran kepercayaan di kota itu didukung heterogenitas masyarakat dan sikap acuh tidak acuh penghuni di lingkungan permukiman.<br /><br />"Makanya, kami meminta masyarakat lebih memperhatikan tetangga atau orang lain di sekelilingnya sehingga apabila aktivitasnya mencurigakan bisa segera dilaporkan kepada aparat berwenang," ujarnya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>