MELAWI-KN. Suasana operasi pasar Ramadan di Kabupaten Melawi mendadak berubah riuh. Bukan sekadar antrean panjang, melainkan gelombang suara ratusan emak-emak yang menggema lantang, menembus keramaian, menuntut satu hal harga harus turun.
Di hadapan Ria Norsan, suara itu terdengar serempak, penuh harap sekaligus mendesak. Paket operasi pasar yang semula Rp90 ribu diminta dipangkas menjadi Rp50 ribu. Teriakan itu menggema di halaman Masjid Agung Kota Nanga Pinoh, Selasa (24/2/2026), saat gubernur turun langsung meninjau kegiatan.
Momentum itu berubah menjadi panggung aspirasi rakyat. Para ibu rumah tangga — yang setiap hari bergelut dengan naik turunnya harga kebutuhan pokok — tak lagi sekadar mengantre. Mereka bersuara. Lantang. Serentak. Tanpa ragu.
Dan keputusan pun datang seketika.
Di tengah kerumunan warga, gubernur akhirnya mengabulkan permintaan tersebut. Harga paket operasi pasar resmi diturunkan menjadi Rp50 ribu.
“Sebenarnya kalau dihitung harga normalnya sekitar Rp120 ribu. Tapi ini program pemerintah untuk membantu masyarakat dan mengurangi inflasi,” ujarnya di hadapan warga.
Sontak, sorak dan tepuk tangan meledak. Ketegangan yang sempat terasa mencair dalam sekejap. Aspirasi dijawab langsung — di tempat, di waktu yang sama.
Satu paket operasi pasar berisi 5 kilogram beras premium, 1 kilogram gula pasir, dan 1 kilogram minyak goreng. Sebelumnya dijual Rp90 ribu, kini dipangkas menjadi Rp50 ribu — jauh di bawah harga normal pasar. Artinya, subsidi yang digelontorkan pemerintah semakin besar.
Program yang digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat ini memang dirancang sebagai langkah strategis menjaga stabilitas harga menjelang Ramadan — periode yang hampir selalu diiringi lonjakan permintaan bahan pokok.
Sebanyak 1.000 paket dibawa langsung ke Melawi. Sasaran utamanya jelas: masyarakat yang membutuhkan, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah yang paling rentan terdampak gejolak harga.
Meski sempat diwarnai desakan keras, suasana kegiatan tetap kondusif. Bahkan, momen tersebut menjadi gambaran nyata interaksi langsung antara pemerintah dan masyarakat — aspirasi disampaikan tanpa perantara, keputusan pun diambil tanpa jeda panjang.
Langkah cepat gubernur dinilai sebagai bentuk responsivitas pemerintah terhadap tekanan ekonomi rumah tangga menjelang Ramadan. Intervensi pasar disebut akan terus dilakukan bila diperlukan demi menjaga daya beli masyarakat.
Di Melawi, hari itu, operasi pasar bukan sekadar distribusi sembako murah. Ia berubah menjadi panggung suara rakyat — dan bukti bahwa satu teriakan serempak bisa menggoyang kebijakan dalam hitungan detik. (Ira)










