SINTANG, KN – Pemerintah resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk Pertalite, Solar Subsidi, dan Pertamax belum lama ini.
Terbaru, harga Pertalite yang semula dijual Rp 7.650 kini menjadi Rp 10 ribu per liter.
Begitu juga Solar yang dulu dibanderol Rp 5.150 sekarang naik menjadi Rp 7.200 per liter.
Kenaikan juga terjadi pada BBM non-subsidi, Pertamax yang kini dijual Rp 14.500 dari sebelumnya Rp 12.500.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sintang, Maria Magdalena menilai kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM saat ini masih kurang tepat.
“Saya heran, kok bisa pemerintah menaikkan harga BBM begitu tinggi, bukannya masyarakat kita saat ini masih terkena dampak dari Pandemi Covid-19,” ungkapnya.
Selain itu juga, Ia menilai pemerintah menaikkan harga BBM tidak berdasar, pasalnya harga minyak mentah dunia menurun tajam dari USD120 per barel beberapa bulan yang lalu menjadi di bawah USD90 per barel pada pertengahan Agustus 2022.
“Semestinya ya, pemerintah melakukan efisiensi anggaran dengan menunda proyek-proyek pencitraan, kita sebut saja IKN,” jelasnya.
Selain itu, kenaikan harga BBM juga menyebabkan beberapa bahan pokok menjadi naik.
“Kenaikan harga BBM membuat kehidupan rakyat yang sudah sulit menjadi semakin sulit. Bukannya mengurangi beban rakyat, tetapi malah menambah beban rakyat,” kata Maria.
Oleh sebab itu, Srikandi Partai Demokrat ini meminta pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan yang telah dibuat.
“Kondisi rakyat belum pulih akibat pandemi, malah semakin diperberat oleh Pemerintah, maka kita meminta kembalikan lah harga BBM ke harga semula,” tukasnya. (Tf/D2)











