MELAWI-KN. Suasana haru menyelimuti rangkaian pelepasan purna tugas Kompol Oding Ardi, S.Sos., di lingkungan Polres Melawi, Sabtu (28/2/2026). Penghormatan itu diwujudkan melalui dua prosesi sakral sekaligus, yakni Wisuda Purna Bhakti dan Tradisi Gerbang Pora, simbol penghargaan tertinggi atas pengabdian panjang seorang perwira kepada institusi Polri dan masyarakat.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat di Aula Tri Brata Polres Melawi. Sementara Tradisi Gerbang Pora digelar di halaman Mapolres Melawi, menjadi momen pelepasan resmi dari kehidupan kedinasan.

Rangkaian kegiatan dipimpin langsung Kapolres Melawi Harris Batara Simbolon, didampingi Wakapolres Aang Permana. Hadir pula jajaran Pejabat Utama, seluruh personel, serta dukungan dari Bhayangkari Cabang Melawi.
Dalam tradisi Gerbang Pora, Oding Ardi berjalan perlahan melewati barisan pedang pora — simbol penghormatan atas dedikasi dan loyalitas selama bertugas. Momen emosional memuncak saat ia menyalami satu per satu personel yang pernah menjadi rekan seperjuangan.
Usai prosesi, Kapolres dan Wakapolres mengantar langsung sang perwira menuju kendaraan pribadinya. Tindakan simbolis itu menandai berakhirnya perjalanan panjang pengabdian di institusi kepolisian.
Kapolres menegaskan, purna bhakti bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan babak baru dalam pengabdian kepada masyarakat.
“Terima kasih atas dedikasi, loyalitas, dan kontribusi yang telah diberikan. Pengabdian tidak berhenti di sini, hanya perannya yang berubah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan dalam prosesi wisuda purna bhakti yang ditandai penyerahan cinderamata dan doa bersama. Suasana kebersamaan terasa kuat — perpaduan rasa hormat, bangga, sekaligus haru melepas sosok yang telah lama menjadi bagian dari keluarga besar kepolisian di Kabupaten Melawi
Dalam sambutannya, Kompol Oding Ardi menyampaikan terima kasih kepada pimpinan dan seluruh rekan kerja atas kebersamaan selama berdinas. Ia menutup pengabdian dengan penuh rasa syukur.
Bagi Polres Melawi, rangkaian pelepasan ini bukan sekadar seremoni. Wisuda purna bhakti dan Gerbang Pora menjadi pengingat bahwa setiap pengabdian yang tulus akan selalu dihargai dan dikenang — sekaligus teladan bagi generasi penerus untuk terus menjaga kehormatan profesi sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. (Ira)










