TANJUNG SELOR; KN – Hutan Gunung Seriang masih diselimuti embun ketika rombongan mulai menyusuri jalan setapak pada Sabtu (30/5) pagi. Sisa hujan semalam membuat tanah terasa lembap, sementara rindangnya pepohonan menjadi pelindung alami sepanjang perjalanan menuju sebuah destinasi yang selama ini lebih dikenal masyarakat sekitar sebagai Goa Berlapis.
Perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Jalur menurun, akar-akar pohon yang menjulur, serta bebatuan licin memaksa setiap orang melangkah dengan hati-hati. Namun rasa lelah seakan terbayar saat mulut goa mulai tampak di balik hijaunya hutan Gunung Seriang.
Di antara rombongan yang datang pagi itu terlihat Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., bersama Wakil Gubernur Kaltara, Ingkong Ala, S.E., M.Si., didampingi sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kunjungan tersebut bukan sekadar menikmati panorama alam, melainkan untuk melihat langsung potensi wisata yang tersimpan di dalam kawasan goa tersebut.
Memasuki Goa Berlapis, suasana langsung berubah. Cahaya matahari perlahan menghilang, berganti dengan kesejukan udara yang memenuhi lorong-lorong batu. Dinding goa yang terbentuk secara alami selama ribuan tahun menghadirkan pemandangan yang memukau dan menyimpan keunikan tersendiri.
Sesekali Gubernur Zainal dan Wagub Ingkong menghentikan langkah. Perhatian mereka tertuju pada ornamen batu alami yang menghiasi langit-langit goa dengan beragam bentuk yang unik.
Di tengah penelusuran, rombongan menemukan fenomena menarik yang menjadi salah satu daya tarik Goa Berlapis. Sebuah susunan batu menghasilkan bunyi merdu ketika diketuk perlahan pada bagian tepinya. Nada yang muncul terdengar menyerupai alat musik alami yang tercipta dari proses geologi selama bertahun-tahun.
“Yang menarik di sini ada batu berbunyi. Kita sudah mencobanya dan suaranya cukup bagus,” ujar Zainal.
Menurutnya, keunikan tersebut menjadi nilai lebih yang membuat Goa Berlapis memiliki daya tarik berbeda dibandingkan destinasi wisata alam lainnya di Kalimantan Utara.
“Insyaallah ke depan gua ini akan kita jadikan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Bulungan. Karena itu kami ingin melihat langsung apa yang perlu dipersiapkan,” katanya.
Goa Berlapis bukanlah satu-satunya kawasan wisata alam yang pernah dikunjungi Gubernur Zainal. Sebelumnya, ia telah menjelajahi Goa Batu Benau yang dihuni Suku Punan Batu, kawasan Goa Karst Batu Putih, hingga Batu Tumpuk di Desa Panca Agung.
Namun, Goa Berlapis memiliki keistimewaan tersendiri. Kawasan ini merupakan bagian dari sekitar 22 goa yang saling terhubung dalam satu sistem kawasan karst yang menyimpan potensi besar untuk pengembangan wisata minat khusus dan petualangan.
Bagi Kalimantan Utara yang terus berupaya memperkuat sektor pariwisata, keberadaan Goa Berlapis menjadi aset berharga. Tidak hanya menawarkan keindahan alam bawah tanah, tetapi juga menghadirkan pengalaman eksplorasi yang berbeda bagi para pencinta wisata goa dan petualangan.
Menjelang siang, penelusuran pun berakhir. Satu per satu anggota rombongan kembali menuju pintu keluar. Sinar matahari yang menembus sela-sela pepohonan menjadi penanda berakhirnya eksplorasi hari itu.
Sebelum meninggalkan lokasi, Gubernur Zainal mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian kawasan tersebut agar tetap terawat dan dapat dinikmati generasi mendatang.
“Kita harap masyarakat yang datang ke sini jangan merusak, jangan mencoret-coret dinding, dan jangan mengotori tempat ini,” pesannya.
Meski masih tersembunyi di balik rimbunnya hutan Gunung Seriang, Goa Berlapis menyimpan harapan besar bagi masa depan pariwisata Kalimantan Utara. Dari lorong-lorong batu yang sunyi dan gelap, tumbuh optimisme bahwa suatu hari nanti destinasi ini akan dikenal lebih luas dan menjadi salah satu ikon wisata unggulan Bumi Benuanta.
Di balik gelapnya Goa Berlapis, tersimpan cahaya harapan baru bagi kemajuan pariwisata Kaltara.
(dkisp)










