Ini Harapan Billy Terhadap Listrik di Kabupaten Sintang

oleh
Billy Welsan

SINTANG, KN – Keluhan terhadap listrik masih kerap disuarakan masyarakat Kabupaten Sintang, khususnya yang tinggal di pedalaman. Hal itu dikarenakan, hingga saat ini mereka belum bisa menikmati listrik negara tersebut, karena belum ada jaringan yang masuk ke daerahnya.

Kondisi ini pula menjadi perhatian anggota Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Billy Welsan. Ia berharap, secepatnya ada pemerataan pelayanan listrik di Kabupaten Sintang. Karena menurutnya sudah menjadi kebutuhan mendasar masyarakat.

“Kitah harapkan listrik negara ini merata sampai ke daerah pedalaman. Terlebih untuk daerah-daerah yang hingga saat ini belum teraliri listrik,” ujar Billy.

Billy juga mengatakan, bahwa tak hanya warga pedalaman saja, namun beberapa desa yang berada di Kecamatan Sintang atau tak jauh dari pusat kota pun, masih ada yang belum teraliri listrik negara ini.

“Untuk masuk jaringan listrik ini memang sangat besar biayanya. Semoga pemerintah mempunyai solusi untuk itu,” terangnya.

Billy juga mengatakan, bahwa sejauh ini daerah-daerah yang belum teraliri listrik, mereka hanya mengunakan panel surya, genset dan lain sebagainya, agar dapat menikmati listrik.

“Itu pun hanya malam hari, agar mereka tak merasa gelap gulita. Kalau siang mereka tidak dapat menikmati listrik itu. Terkadang kita juga kasihan rasanya. Seharusnya mereka juga bisa merasa apa yang orang kota rasakan,” katanya.

Maka dari itu, Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini meminta, Pemerintah Daerah (Pemda) dan PLN Sintang bisa menyelesaikan permasalahan klasik yang sudah begitu lama dirasakan masyarakat Bumi Senentang.

“Saya harap ada terobosan-terobosan ke depan untuk menghadirkan listrik negara di daerah-daerah yang belum teraliri. Agar seluruh masyarakat dapat merasakan kehidupan yang sejahtera dengan mendapatkan pasokan listrik yang maksimal,” terangnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, salah satu warga Desa Lintang Tambung, Kecamatan Kayan Hulu, Nurata Tuti (23) mengatakan, bahwa selain akses jalan yang jauh menuju desanya dari Ibu Kota Kabupaten, puluhan tahun desanya juga belum dialiri listrik.

“Dari saya lahir sampai sekarang saya punya anak satu, belum juga masuk listrik ke desa kami,” keluhnya.

Dengan tidak adanya listrik, ia dan masyarakat lainnya di sana sangat kesulitan, terutama mempengaruhi penerangan desa setempat. Selain itu mempengaruhi ekonomi dan kurangnya informasi.

“Salah satu contohnya terkait informasi, yakni kesulitan menonton berita di televisi,” terangnya.

Ia juga mengatakan, masyarakat di desanya sebagian menggunakan genset dan panel tenaga surya, sebagai akses listrik ke rumahnya. Tapi menurutnya itu hanya sebagian masyarakat saja yang mampu membeli genset dan panel tenaga surya.

“Genset ya dapat dibeli jika masyarakat punya uangnya. Begitupun dengan panel surya, yang harganya bisa mencapai Rp7-8 juta rupiah untuk satu panel. Bagi masyarakat yang mampu tentu bisa dibeli,” tuturnya. (*)