Tahun 2018 Terdapat Satu Kasus GHPR

oleh

MELAWI- Meskipun di tahun 2017 lalu di Melawi terdapat 17 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR), namun tidak ada yang positif rabies. Gigitan tersebut hanyalah gigitan biasa yang bisa terjadi ketika hewan merasa terancam oleh gangguan manusia.

Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Melawi, Nining mengatakan, angka tersebut memang cukup tinggi. Namun dari hasil observasi yang dilakukan, hewan-hewan yang mengingit tersebut belum ada yang positif rabies, dan terhadap korban gigitan sudah diberikan Vaksinasi Anti Rabies (VAR).

“Untuk ditahun 2018 ini baru satu kasus di Melawi pada tahun 2018 hingga saat ini belum ada. Namun begitu, sudah ada satu kasus GHPR jenis anjing terhadap anak berusaia 16 tahun pada  7 Maret 2018 lalu di Sidomulyo. Namun setelah dilakukan observasi anjing tersebut tidak positif rabies, karena jika positif rabies, anjing atau hewan yang terkena rabies akan mati dalam waktu 14 hari. Sementara untuk korban, setelah digigit lansung diberikan penanganan serta disuntik VAR, dan hingga saat ini dalam keadaan sehat,” kata Nining ditemui di ruangan kerjanya, Selasa (17/4).

Terkait antisipasi adanya rabies, Nining mengatakan, pihaknya tetap melaksanakan program vaksinasi rabies. Yang mana progra tersebut juga sudah disampaikan melalui kepalda desa yang juga tembusannya ke camat.

“Namun kita mohon peran aktif juga dari para pemilik dan aparat pemerintah desa, bila diperlukan vaksinasi untuk melakukan penjadwalan dengan kami. Karena kami bisa melakukan vaksinasi kalau pemilik rabiesnya ada,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, nining juga meminta dan menghimbau kepada warga pemilik setiap Hewan Penulas Rabies (HPR) baik itu kucing maupun ancing, agar bisa diawasi dan tidak dibiarkan berkeliaran begitu saja. Terutama terhadap anjing, jangan sampai mengganggu masyarakat dengan membiarkannya berkeliaran begitu saja dan kapan saja bisa tertular rabies.

“Jadi peran aktif pemilik hewan itu harus. Jangan memiliki anjing, namun dibiarkan berkeliaran begitu saja. Harus dikandangi atau diikat, karena selain dikhawatirkan bisa tertular rabies, juga dikhawatirkan menganggu masyarakat,” tegasnya.

Terpisah, Ade Solihin, selaku orang tua anak yang terkena gigitan anjing menceritakan kronologis anaknya bisa digigit anjing. Ketika itu anaknya pulang sekolah berjalan kaki, namun ada seekor anjing yang mengikutinya. Merasa risih, anaknya yang merupakan seorang siswa di salah satu SMP meraa risih, dan mengusir anjing tersebut dengan kaki. Seketika anjing tersebutmerasa terancam dan menggigit paham sebelah kanan.

“Setelah digigit anjing, anak saya lansung telfn, dan sayapun melakukan langkah membersihakannya bekas gigitan dengan air bersih yang mengalir, dan membawa anak saya ke Puskesmas Nanga inoh untuk divaksin anti rabies. Alhamdulillah sampai saat ini anak saya sehat dan anjing yang mengingitnya itu sampai saat ini masih hidup,” ungkapnya.

Terhadap kejadian yang menimpa anaknya tersebut, Ade meminta kepada setiap wargapemilik hewan penular rabies, terutama anjing, agar bisa mengikat dan tidak membiarkannya berkeliaran.karena sangat mengganggu sekali. “harusnya pemilik anjing mengandangkan atau mengikat anjingnya, dan tidak membiarkan anjingnya berkeliaran, supaya tidak menganggu warga lainnya,” pungkasnya. (edi/KN)