Dewan Prihatin Dengan Tingginya Angka Stunting di Sintang

oleh
Daniel Banai

SINTANG – Pemantauan Status Gizi (PSG) secara nasional menyebutkan bahwa stunting di Kabupaten Sintang telah mencapai angka 44 persen. Kepala Dinas Kesehatan Sintang, Harysinto Linoh mengungkapkan meningkatnya angka stanting di kabupaten Sintang ini dipengaruhi oleh prilaku manusia dalam melaksanakan upaya pencegahan stunting.

“Banyak ibu menyusui tidak mau menyusui anaknya, padahal ASI adalah yang terbaik untu memneuhi kebutuhan bayi, juga tidak memberdayakan posyandu, jadi prilaku sangat memperngaruhi realisasi pencegahan stunting itu,” kata Sinto dijumpai media ini diruang kerjannya.

Sinto memgaku pihaknya sudah gencar mensosialisasikan cegah stunting, “ kita sudah sering kampanyekan itu, hanya saja kata dia realisasinya dilapangan dipengaruhi oleh prilaku, misalnya pemberian asi eklusif selama enam bulan tidak dilakukan,”tuturnya.

Dia mengatakan Stunting atau kerdil merupakan masalah gizi kronis yang menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan pertumbuhan otak pada anak. Kurangnya nutrisi anak pada 1000 hari kehiupan merupakan salah satu penyebab stunting.

Terpisah anggota DPRD Sintang Kanisius Daniel Banai mengaku prihatin dengan tingginya angka stunting di Kabupaten Sintang ini. Terlebih stunting ini dipengaruhi oleh perilaku kaum ibu pasca melahirkan yang tidak optimal dalam memberikan asupan gizi kepada anak atau ASI eksklusif selama 6 bulan.
Dia pun mengimbau supaya kaumbibu yang baru saja melahirkan agar memberikan air susu ibu eksklusif pada bayi nya sedini mungkin.

“Kaum ibu yang baru melahirkan dan mampu memproduksi ASI wajib memberikan secara eksklusif kepada bayinya selama 6 bulan tanpa tambahan makanan atau cairan lainnya. ini penting diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada bayi meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan jalinan Kasih sayang antara ibu dan anak,” kata Daniel.

Dikatakannya kandungan ASI yang kaya nutrisi tidak dapat digantikan oleh bahan makanan apapun. Dia pun mendorong pemerintah daerah melalui dinas kesehatan gencar mensosialisasikan informasi tentang pentingnya manfaat ASI eksklusif secara terus-menerus kepada masyarakat sebagai upaya pencegahan stunting ke masyarakat, khusunya masyarakat di pedalaman. Hal ini perlu diperhatikan supaya edukasi kesehatan ini menyentuh hingga pelosok negeri.

“Pemberian ASI eksklusif merupakan solusi untuk menekan tingginya angka stunting di Kabupaten Sintang karena penanganan stunting itu dimulai sejak 1000 hari pertama kehidupan,” pungkasnya. (Ts)