Taufik Mengatakan Jangan Paksakan Diri Terkait UNBK

oleh

MELAWI – Kepala SMPN 1 Nanga Pinoh, Theresia Idayani mengatakan, pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Berbasis Komputer (UNBK) di Melawi tahun ini akan diperluas. Sementara keterbatasan sarana komputer menjadi kendala utama. Pelaksanaan UNBK untuk tingkat SMP tahun ini terhambat masalah dana. Padahal tuntutan pemerintah harus dikerjakan.

“Kendala jumlah komputer semakin sulit diatasi karena dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak dapat digunakan untuk menambah unit komputer sekolah. Sementara. Di Melawi pada 2019 ada 15 sekolah yang ditargetkan sudah menggelar UNBK,” kata Theresia Idayani belum lama ini di DPRD Melawi.

Menurut Theresia untuk dapat menggelar UNBK, sekolah minimal menyediakan jumlah komputer sepertiga dari peserta ujian nasional. “Kami sudah dua kali menggelar UNBK, masih sulit menggelar pada tahun ini. Komputer yang tersedia kurang lebih 64 unit, padahal jumlah peserta ujian 300 siswa. Minimal komputer yang tersedia harus 100 unit,” keluhnya.

Lebih lanjut Idayani mengungkapkan, dari 15 sekolah baru 7 sekolah yang sudah menyatakan siap menggelar ujian nasional berbasis komputer. Yang lain masih terkendala sarana prasarana.

”Mau membangun kemitraan dengan orang tua juga sulit, takut dianggap pungli. Kami berharap, Pemkab Melawi dapat menganggarkan dana untuk BOS daerah, sehingga sekolah tidak perlu lagi menggalang dana dari orang tua,” ujarnya.

Terpisah, Anggota Komisi I DPRD Melawi, taufik mengatakan, pelaksanaan UNBK masih memiliki banyak kendala. Selain keterbatasan komputer, masalah jaringan listrik yang padam juga menjadi gangguan dalam pelaksanaan UNBK.

“Saya menyarankan sekolah mengukur kemampuan untuk menyelenggarakan UNBK. Kalau memang belum mampu, jangan usah dipaksakan diri. Karena bila mendadak menggelar UNBK dan siswa belum familiar, juga akan menjadi masalah,” kata Taufik.

Taufik mengatakan, pelaksanaan ujian nasional beberapa tahun ini juga sudah tidak lagi menjadi acuan menentukan kelulusan siswa. Karena penentuan kelulusan menjadi wewenang sekolah.

“Hasil UN lebih untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran. Hal ini juga yang membuat kadang siswa sekarang terkesan lebih santai dalam belajar karena menganggap pasti lulus sekolah,” pungkasnya. (Ed/KN)